Salah satu kebiasaan baru yang diterapkan oleh kantorku setiap pagi ialah mengawali pekerjaan dengan doa; dulu biasanya hal itu hanya dilakukan setiap hari Senin. Acaranya seperti persekutuan doa biasanya. Nyanyi, doa, dan sharing. Kadang cuma nyanyi dan doa, soalnya tidak ada ada yang sharing. Ada kalanya pas sharing dijadikan waktu bercanda untuk ngerjain teman hehe. Tapi tidak jarang juga pas sharing semua diam dan hanya saling melihat satu dengan yang lain.

Dalam suatu kesempatan bosku pernah bilang kalau dia sebenarnya merasa ‘sulit’ membiarkan pegawainya mengadakan persekutuan doa setiap hari. Adanya acara ini tentu saja akan mengurangi jam kerja. Tetapi kemudian dia mengatakan bahwa mengawali hari dengan memuji Tuhan justru lebih baik dibandingkan langsung kerja. Sekalipun secara manusia ada waktu yang ‘terbuang’ tapi ia yakin pasti lebih banyak berkat yang akan didapat.

Aku termasuk salah satu karyawan yang merasakan adanya berkat itu. Memang sih melulu berimbas ke soal kerjaan yang tiba-tiba menjadi mudah. Sharing, doa, dan pujian lebih sering memberikan ‘kesegaran’ bagiku untuk memulai pekerjaan di kantor.

Selain itu, acara tersebut juga membuat kami semakin akrab satu dengan yang lain. Teman-teman pun juga lebih berani berbagi cerita atau menyatakan pendapatnya atas suatu masalah tertentu. Imbasnya tentu saja sharing mereka semakin menguatkan imanku kepada Tuhan. Tidak jarang ada pengetahuan baru yang kudapat dari sharing mereka.

Pada awal persekutuan ini dimulai setiap hari, bosku pernah bilang kalau persekutuan dimulai pukul 8.10 (kantor mulai buka pukul 8.00) dan selesai pukul 8.45. Tetapi ia melanjutkan kalau semuanya mengikuti kehendak Tuhan.

Dan dalam prakteknya ia memang belum pernah mengingatkan karyawannya ketika acara persekutuan melebihi tenggat waktu yang ditentukan. Ia justru nampak senang bila melihat karyawannya sedang asyik sharing, sekalipun waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 lebih. Bahkan ada kalanya ia ikut memimpin doa. Padahal kalau dia mimpin doa pasti luama hehe. Namun demikian teman-teman juga sadar. Bila tidak ada yang sharing atau hanya diam-diam saja, acarapun segera diakhiri walaupun tenggat selesainya masih lama.

Bagiku kunci keberhasilan persekutuan doa ini terletak pada kerelaan meluangkan waktu dengan sungguh-sungguh. Aku tahu bahwa setiap orang sibuk dan mungkin ada yang sedang dikejar deadline, tapi kami rela meluangkan waktu untuk berdoa, tanpa berpikir soal waktu. Kalau kami masih berpikir berapa lama persekutuan ini berlangsung atau terus-menerus mengingatkan kapan persekutuan ini harus selesai sama halnya kami belum rela meluangkan waktu untuk berdoa. Bagaimana Tuhan rela memberkati kami kalau kami sendiri tidak rela meluangkan waktu khusus bersama dengan Tuhan.

Tanpa bermaksud menggurui saya ingin mengingatkan teman-teman yang terbiasa memulai hari dengan persekutuan doa baik di rumah atau di kantor, lakukannya dengan kerelaan hati dan jangan kuatir soal waktu dan pekerjaan. Tuhan akan peduli dengan kita jika kita benar-benar peduli dengan Tuhan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>