Catatan: Versi yang sama pernah dimuat di Majalah Exodus (Majalah PMK Fisip UNS Surakarta)

Kenanganku terhadap Nitha kembali hidup ketika aku mengikuti acara pelepasan peserta retreat kaum muda di gereja ke Bukit Hermon, Tawangmangu. Pemicunya ialah seorang gadis yang sedang duduk di depan pintu masuk gereja. Kuamati gadis tersebut sambil berharap bahwa dia benar Nitha adanya. Baru kali ini kulihat wajahnya, agaknya ia baru pertama kali ini ikut acara kaum muda atau bisa juga ia pindahan dari gereja lain. Entahlah.

Selang beberapa detik kemudian kupaksakan kakiku melangkah mendekati dirinya. Walaupun aku dapat berargumen bahwa aku ingin bertemu dengan teman-temanku yang kebetulan juga duduk di dekat dirinya namun tak dapat kubohongi diriku bahwa aku juga ingin duduk di dekatnya. Sebelum kesempatan itu hilang.

Aku memilih duduk di sebelah kiri teman-temanku sehingga gadis itu sekarang duduk di sebelah kiriku. Beberapa kali kuberanikan melirik wajahnya dan sialnya iapun melirikku balik yang tentu saja membuatku jadi salah tingkah.

Bagiku Nitha merupakan seorang gadis ideal yang pasti ingin dipacari oleh siapapun cowok yang pernah melihat dirinya. Dua acungan jempol pantas diberikan untuknya. Satu untuk keindahan tubuhnya yang tidak kalah dengan peragawati kelas internasional. Sedangkan jempol yang kedua diacungkan untuk inner beauty yang tidak kalah dengan kecantikan fisiknya. Sikap sederhana, penolong, ramah terhadap sesama dan tidak membeda-bedakan derajad dalam pergaulan itulah yang semakin membuatku ingin menjalin asmara dengan Nitha.

“Eh, kamu ikut berangkat Retreat sekarang, kan?!”
“Hehehe, enggak,” aku hanya bisa tersenyum menolak ajakan teman-temanku, “nanti aku nyusul.”

—-

Di dalam bis menuju Tawangmangu aku berharap dapat berjumpa dengan gadis yang telah mengingatkan pada Nitha kemarin. Mungkin saja dia berangkat retreatnya nyusul sama seperti aku. Aku berkhayal andaikan aku dapat bersama gadis itu duduk sebangku yang khusus untuk 2 orang.

Sudah lebih dari 3 tahun aku pacaran dengan Nitha. Suatu waktu lebih dari yang cukup untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan atau menentukan bagaimana kelanjutan hubungan kita.

Dan hal itulah yang pada suatu hari dipertanyakan oleh Nitha, “Kamu, ingin melanjutkan hubungan kita?”

“Tentu saja, aku justru menginginkan kita bisa menjalani hubungan ini dengan lebih serius.”

“Apa gak lebih baik kita cukupkan sampai di sini saja hubungan kita?”

“Lho, memangnya kenapa?” aku kaget, hampir tidak percaya dengan ucapan Nitha barusan.

Nitha terdiam dan akupun ikut diam, menunggu dia bicara. “Bukannya aku gak cinta lagi ama kamu, tapi kenyataannya kita gak bakalan mungkin bisa cocok karena kita beda agama.”

“Tapi, Nit, bukankah selama ini kita tidak pernah mempermasalahkannya? Bukankah selama lebih dari 3 tahun kita pacaran tidak ada satupun masalah yang muncul hanya karena perbedaan agama?”

“Mungkin sekarang tidak ada, tapi bagaimana nantinya? Apa kamu berani menjamin bahwa tidak akan ada masalah diantara kita karena perbedaan iman?,” Nitha kembali terdiam dan akupun juga ikut diam, “bagaimana dengan pemberkatan pernikahan kita? kamu mau gak menikah denganku bukan di gereja? bagaimana dengan agama anak kita, bagaimana…”

Ya, aku memang berbeda agama dengan Nitha. Satu kenyataan yang sering menjadi penghalang cinta sepasang sejoli. Sebenaranya selama 3 tahun kami pacaran tidak ada satupun masalah yang muncul hanya karena perbedaan keyakinan. Tapi aku juga tidak dapat mengingkari hati kecilku yang kadang mengingatkanku akan kehendak-Nya dan prinsipku mula-mula untuk mencari pendamping yang seiman denganku.

Prinsip itulah yang kini menjadi kerinduan di dalam hatiku. Kerinduan untuk datang kebaktian atau persekutuan bersama kekasihku, kerinduan untuk doa bareng kekasihku maupun kerinduan sharring masalah kekristenan dengan kekasihku. Semua kerinduan yang selama lebih dari 3 tahun tidak pernah muncul dan kini entah kenapa kerinduan tersebut semakin memuncak. Oh, Tuhan, aku terlalu mencintai Nitha. Seandainya Nitha seiman denganku…

“Aku telah merenungkan hal ini… dan keputusan sudah kuambil… sebaiknya…” Nitha terdiam tidak mampu menyelesaikan kalimat yang ia ucapkan dengan terbata-bata. Ia berusaha menahan perasaannya tapi pada akhirnya setitik air mata turun membasahi pipinya. Spontan aku menggeser dudukku mendekati dirinya dan menghapus air matanya.

“Kamu mau gak pindah ke agamaku?” aku terkejut dengan apa yang baru saja kuucapkan. Sepanjang aku jalan dengan dia, tidak pernah aku mengenalkan Yesus jika dia tidak menanyakannya, tapi kini, aku justru terlalu berani untuk mengajaknya pindah ke agamaku.

Nitha tercenung sejenak lalu tersenyum dan berkata, “Aku gak mau pindah agama karena seorang cowok atau perkara duniawi lainnya. Aku akan pindah agama jika aku mencintai Tuhan dalam agama tersebut dan sampai detik ini aku tetap berpegang teguh pada keyakinanku. Mencintai Allah.”

Aku memaksakan diri untuk tersenyum walaupun kecewa karena usahaku untuk tetap bersatu dengannya gagal. Namun jauh di dalam hatiku muncul juga perasaan kagum pada dirinya. Kagum karena ternyata Nitha bukanlah tipe orang yang mudah gonta-ganti keyakinan hanya untuk mengejar perkara duniawi.

Kembali kami terdiam tanpa ada keinginan untuk bertutur kata atau sekedar beradu argumen mencari jalan untuk mempertahankan hubungan kami. Kami sadar bahwa perbedaan keyakinan terlalu kokoh berdiri menjadi batas cinta diantara kami. Kulihat berulangkali dia mengedipkan kelopak matanya untuk menahan tetesan air matanya. Sementara itu tanganku kini memeluk dirinya dan menuntun kepalanya bersandar dipundakku. Aku sadar bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku dapat menikmati suasana seperti ini dengan Nitha. Oleh karena itu, kubiarkan diriku saat mengecup kepalanya dan mencium harum wangi rambutnya tanpa ada keinginan untuk melepaskannya. Bersama dengan itu berbagai macam kenangan yang telah kami lalui kembali terlintas di pikiranku yang tanpa sadar telah memaksaku meneteskan air mata.

“Bukit Hermon… Bukit Hermon… ada yang turun ?!”

—–

Aku cukup beruntung. Di Bukit Hermon aku dapat berjumpa dan beberapa kali ngobrol dengan gadis itu. Orang bilang jika engkau mulai memikirkan lawan jenismu maka temuilah dia dan ajaklah dia bicara supaya engkau tidak lagi terlalu memikirkannya lagi. Selain itu, padatnya acara ternyata cukup menyita waktu sehingga pikiranku tidak lagi tenggelam bersama Nitha.

Sudah lebih dari satu tahun aku tidak bertemu atau menjalin kontak dengan Nitha. Ia sekarang melanjutkan studinya ke luar negeri. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan bagi kami untuk dapat saling melupakan satu dengan yang lain. Walaupun sangat sulit namun aku hampir saja berhasil melupakan kisah cintaku dengan Nitha sampai gadis itu muncul dan kembali mengobarkan kenangan yang telah lama terkubur.

Oh, Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Menjauhi gadis itu dan berharap perasaan cintaku terhadap Nitha benar-benar hilang atau berusaha mengenalnya lebih dekat lagi da berharap dia dapat menggantikan Nitha dalam kehidupanku. Tidak, aku tidak mau mencintai seseorang hanya karena secara fisik dia mirip dengan mantanku terdahulu. Aku juga tidak mau menjauhi gadis itu hanya karena ia mirip dengan Nitha. Bagiku Nitha adalah cinta di masa lalu dan bila ada gadis yang mirip dengan dirinya maka kuanggap sebagai suatu kebetulan.

Hari Minggu siang saat hendak pulang ke Solo aku duduk di dekat gadis itu. Kuakui walau kami sering berbicara namun sampai detik ini aku masih belum tahu namanya. “Boleh tahu, namamu, siapa?”
“Nita.”

 

One Response to Nit(h)a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>