Banjir Mulai Menyapa
Hujan yang mengguyur Sukoharjo sejak sore hari (23 Februari 2009) ternyata membuat wilayah di sekitar rumahku mulai dihampiri oleh banjir. Memang sih gak nyampe rumahku. Kira-kira sekitar 50 meter dari rumahku jalanan mulai digenangi dengan air yang sudah setinggi tumit. Untungnya rumah-rumah di sini biasanya lebih tinggi dari jalan jadi belum kena banjir.
Tapi di daerah lain banjir sudah mulai menyentuh lutut dan menghampiri beberapa rumah. Aku yang mencoba melihat banjir itu menyaksikan bagaimana aliran air di jalan perlahan-lahan namun pasti terus naik menggenai jalan raya. Orang-orang yang wilayahnya terkena banjir pun beramai-ramai mengungsi ke daerah lain yang tidak tergenang banjir.
Kejadian ini menginggatkan aku terhadap banjir di tahun 2008 kemarin di wilayah ini. Waktu itu hujan memang turun deras tetapi tidak ada tanda-tanda kalau akan terjadi banjir. Tiba-tiba saja sekitar pukul 2.00 dini hari air dari sungai meluap yang mengakibarkan beberapa rumah langsung terendam air.
Pukul 3.00 dini hari tetanggaku berteriak kalau rumah Bude Tri yang letaknya dekat sungai kena banjir. Aku langsung bangun dan menuju ke sana. Ternyata pagar rumah yang tingginya hampir satu meter sudah tidak kelihatan lagi. Disembunyikan oleh banjir.
Padahal rumah bude Tri sendiri cuma berjarak sekitar 25 meter dari rumahku. Hanya saja ada pemisah berupa sungai kecil (yang tidak ikut meluap) dan jembatan yang letaknya agak tinggi. Selain itu letak rumah bude Tri sendiri juga lebih rendah dari letak rumah di sisi sungai yang satunya. Kalau saja banjirnya bisa menutupi jembatan mungkin rumahku juga kena banjir.
Agaknya banjir sudah mulai mengakrabi warga di lingkungan ini. Namun, hal ini bukannya tidak diantisasi oleh warga. Kerja bakti membersihkan sungai dan selokan terus dilakukan. Pinggiran sungai besar yang pernah meluap itu juga dibuat semacam tanggul darurat. Biar kalau sungai meluap airnya tidak langsung menggenangi jalan.
Untungnya di malam hari hujan telah berhenti dan banjirpun tidak bertambah parah. Memang sudah ada rumah yang kebanjiran tetapi kejadian ini tidak separah tahun lalu.
Semoga saja warga terus giat menjaga lingkungan sehingga banjir tidak terus menyapa.
Hardono adalah
Saya adalah seorang anak, suami, ayah, pengrajin website, pengguna teknologi selular, penikmat musik, film, buku, olahraga, dan senang mengkritik para politikus saat ini. Melalui blog ini saya ingin mencoba berbagi berbagai hal yang saya temui dalam perjalanan kehidupan saya kepada para pembaca. Semoga blog ini memberkati Anda.
Archives
Recent Posts
- 5 Efek Samping Mengerikan dari Antibiotik Kimiawi
- Hari Kelimabelas: Hari Terakhir di Puri Waluyo
- Hari Keempatbelas: Ibu Mau Dibawa Pulang
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah.
- Hari Ketigabelas: Kami Ingin Membawa Ibu Pulang
- Hari Keduabelas : Ibu Menjalani Rekam Otak (EEG)
- Hari Kesebelas: Ibu Mulai Membaik dan Semoga Terus Membaik
- Hari Kesepuluh: Ibu Mulai Membaik
- Mengapa Ibu Depresi
- Beriman adalah Berserah tanpa Protes
Recent Comments
- Saya Ingin Lari dari Kenyataan | /Hardono ada di sini on Hari Ketiga: Kunjungan Saudara dan Tidur Nyenyak
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah. | /Hardono ada di sini on Ibuku Seperti Orang Linglung
- hei on Haruskah Beribadah di Gereja setiap Hari Minggu?
- oong on Registrasi Paket CDMA XL
- Hari Keduabelas : Ibu Menjalani Rekam Otak (EEG) | /Hardono ada di sini on Hari Kesebelas: Ibu Mulai Membaik dan Semoga Terus Membaik
- | /Hardono ada di sini on Hari Ketujuh: Ibu Kembali Tidak Dapat Tidur
- Hari Kesepuluh: Ibu Mulai Membaik | /Hardono ada di sini on Hari Kesembilan: Ibu Menjalani CT Scan
- Mengapa Ibu Depresi | /Hardono ada di sini on Ibuku Sakit Diabetes
- Beriman adalah Berserah tanpa Protes | /Hardono ada di sini on Hari Kedelapan: Ibu Kembali Tidur Nyenyak
- Hari Kesembilan: Ibu Menjalani CT Scan | /Hardono ada di sini on Hari Kedelapan: Ibu Kembali Tidur Nyenyak





