Mbah Ginem adalah ibu dari Yu Giyem yang baru saja meninggal. Di balik usianya yang sudah tua, ia terkenal sebagai pekerja keras yang bertanggung jawab. Tidak jarang tertawa ringan yang khas selalu menghiasi wajahnya setiap kali menyapa orang atau membicarakan sesuatu.

Mbah Ginem sekarang tinggal bersama kedua anak dan cucunya. Sedangkan suaminya telah lama meninggal. Sementara anak-anaknya yang lain juga menetap di dekat rumah mbah Ginem.

Setiap pagi ia selalu terlihat menyapu pekarangan rumahnya. Kadang sambil mengendong Arul, cucunya. Sorenya dengan penuh semangat ia menyirami tanaman di rumahnya. Padahal dia melakukan hal itu bukan dengan air pam yang dialirkan melalui selang. Ia menimba air dari sumur, menaruhnya di ember lalu lalu membawa ember tersebut ke tanaman yang membutuhkan air. Bukan sekali dua kali ia melakukannya melainkan beberapa kali.

Mbah Ginem hanya bisa pasrah ketika beliau tahu kalau penyakit kanker payudara Yu Giyem kambuh lagi. Wajahnya memang masih bisa tersenyum tetapi terlihat dengan jelas kesedihan terpancar dari raut wajahnya.

Dan tentu saja, sebagai seorang ibu beliau sangat terpukul ketika mengetahui anaknya meninggal. Kesedihan yang luar biasa dirasakan oleh seorang ibu saat mengetahui anaknya meninggal.

Tapi mbah Ginem tidaklah larut dalam kesedihan. Beliau bisa menerima kondisi ini dan menyakini kalau mungkin inilah jalan yang terbaik untuk anaknya.

Sehari setelah penguburan Yu Giyem atau 2 hari setelah kematiannya aku sempat bertemu dengan mbah Ginem dan menyapanya. Ada sesuatu yang berbeda pada mbah Ginem. Raut mukanya tidak lagi menunjukkan kesedihan dan tekanan yang luar biasa seperti hari-hari yang lalu. Ia nampak lebih tenang walau masih tergambar kesedihan karena kehilangan puterinya.

Kematian Yu Giyem memang membawa kepedihan bagi mbah Ginem. Tapi mbah Ginem sadar bahwa anaknya sudah mati dan tidak ada gunanya terus menerus ditangisi. Ia sadar tidak ada gunanya terus menerus bersedih. Ia memilih untuk tetap mejalani hidup dan berserah kepada Tuhan.

Semangat yang luar biasa sekali dari mbah Ginem. Salut mbah!

 

5 Responses to Semangat mbah Ginem

  1. yosephs says:

    salut buat yang ikhlas menerima kematian orang terdekat. tApi memang kematian baik untuk siapa saja, karena kematian adalah rencanaNYA :-)
    salam…

  2. djauhar says:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H – Maaf lahir batin

  3. Shisuka says:

    Beliau mempunyai semangat yang luar biasa.
    Semoga sikap ini dapat ditiru oleh kita semua.

  4. pakde karyo says:

    Sebuah tauladan yang patut di contoh.

  5. Tya says:

    semoga bisa menjadi pelajaran qta semua untuk tetap semangat dan tegar menatap hidup yang pasti menemui jalan terjal :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>