Sudah menjadi kebiasaan kalau aku akan berhati-hati bila memboncengkan istri dan anakku naik sepeda motor. Kecepatan motorpun bisa turun drastis dari biasanya aku naik seorang diri. Demikian pula dengan yang kulakukan kemarin. Aku sudah naik motor pelan dan berada di lajur kiri eh tiba-tiba diserempet orang.

Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Saat sedang menikmati perjalanan hendak membeli pisang untuk Ime tiba-tiba ada yang menyerempetku. Istriku langsung menjerit histeris sedangkan Ime juga menangis dengan keras. Kulihat yang menyerempet itu sudah jatuh berguling di depanku. Beruntung motorku jalannya pelan sehingga sempat kukendalikan untuk tidak menabrak orang tersebut.

Namun, karena kaget dan berusaha menjaga keseimbangan aku sempat panik dan blank. Aku pikir motorku sudah jatuh hingga kusadari kalau aku ternyata mengerem menggunakan kaki. Langsung saja aku rem motor dan berhenti di pinggir jalan.

Tangan dan pinggangku keserempet namun tidak begitu parah. Aku tanya istriku, dia mengaku kena di pinggang dan tangan dan merasa agak sakit. Setelah kupastikan ia dan Ime tidak apa-apa, aku bergegas menuju orang yang menyerempet aku.

Emosiku sudah meluap dan bersiap-siap mendamprat pelakunya. Tapi emosi tersebut langsung hilang sewaktu melihat pelaku (berboncengan) tersebut mengalami luka yang cukup parah. Ia langsung mengakui kalau ini kesalahannya dan bersedia mengganti semua kerugian yang aku tanggung.

Aku rasa itu tidaklah perlu karena aku, istriku, Ime dan tentu saja motornya tidaklah mengalami masalah yang cukup serius.

Yang membuatku emosi kini berganti ke seorang bapak yang ada di situ dan berusaha menyalahkan aku. Aku sudah berulangkali menjelaskan kalau aku berada di lajur kiri berjalan dengan pelan dan tiba-tiba diserempet. Tapi dia kelihatan tidak percaya dan terus ke orang-orang di situ untuk memastikan apakah aku benar di lajur kiri atau tidak.

Bahkan ia sempat memintaku untuk mengantar pelaku tersebut ke rumah sakit. Tentu saja hal ini kutolak. Aku beralasan aku adalah korban, masak korban mengantar pelaku alias tersangka berobat. Apa gak kebalik pak? Istriku juga ikut menimpali dengan menawarkan bagaimana kalau bapak saja yang mengantarnya. Ia tidak mau dengan alasan yang tidak jelas.

Beberapa saat kemudian temannya datang dan aku bersama keluargaku segera meninggalkan mereka. Kami sudah berdamai dan biarlah setiap orang mengurus urusannya sendiri-sendiri.

Aku bukannya tidak peduli hanya saja aku dan keluarga adalah korban dari kesalahan mereka. Kalau sampai mereka celaka itu karena kesalahan mereka sendiri. Selain itu aku juga harus melindungi anak istriku yang masih syok dengan kejadian tersebut walau secara fisik mereka tidak mengalami luka parah.

Kadang aku masih tidak habis pikir, sudah berhati-hati eh kok masih celaka. Tapi bersyukur kepada Tuhan karena tangan-Nya masih berkenan melindungi kami.

 

3 Responses to Sudah Berhati-hati Kok Masih Diserempet

  1. oknum says:

    Ya memang begitu mas, kadang kita yang hati2 namun orang lain tidak. Lebih berhati2 lagi kalau begitu mas.

  2. yang sabar mas…cukup didoakan yg baik2 aja tu orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>