Pada akhir bulan November 2009 yang lalu ibu menderita penyakit bisul di punggungnya. Tidak tanggung-tanggung sampai 3 bisul. Alhasil badannya langsung lemas. Setelah kuperiksakan ternyata sakit ibu tidak kunjung sembuh melainkan bertambah parah. Akhirnya aku dan istriku memutuskan untuk membawa ibu ke rumah sakit.

Karena kondisinya sangat lemas, ibu langsung dimasukkan ke UGD untuk menjalani perawatan. Setelah tahu luka bisulnya yang sudah menganga, ibu langsung di tes kadar gulanya. Namun, tes yang dilakukan dengan alat kecil (aku tidak tahu namanya) tersebutk tidak membuahkan hasil. Kadar gula ibu terlalu tinggi jadi harus dilakukan tes melalui pengambilan sample darah di laboratorium.

Hasil dari tes tersebut menunjukkan kalau kadar gula ibu menunjukkan angka di atas 800 dari normal 120. What’s ????!!! Padahal orang dengan kadar gula 600 biasanya udah pingsan. Bahkan beberapa orang sudah tidak kuat bila gulanya 400. Tetapi ibu masih kuat dengan kadar gula 800.

Agar gulanya bisa turun maka diputuskan agar ibu dirawat di rumah sakit dulu. Namun hal itu ditentang oleh ibu. Dalam kondisi setengah tidak sadar, ibu terus mengigau meminta pulang. Namun, kami tetap berupaya membujuk agar ibu dapat bertahan di rumah sakit.

Selama di rumah sakit, ibu menjalani terapi infus insulin agar gulanya turun. Hasilnya setelah lebih dari 10 jam diinfus gula ibu turun menjadi 154. Sayangnya ibu terus berontak ingin pulang sehingga terapi tersebut tidak dilanjutkan dan ibu kami ajak pulang.

Alasan utama kenapa aku memutuskan untuk mengiyakan ajakan ibu waktu itu karena selama di rumah sakit, ibu terlihat tidak nyaman. Menurutku hal ini sangat berpengaruh kepada kondisi psikis ibu. Sebagus apapun obat yang diberikan tapi kalau psikisnya tidak baik hasilnya juga tidak akan terlalu bagus. Selain itu fakta kalau gula darah mendekati normal juga membuatkan semakin yakin kalau ibu akan segera sembuh.

Selama menjalani perawatan di rumah kondisi ibu memang tidak langsung tiba-tiba membaik, tetapi secara perlahan terus membaik.

Satu hal yang terus kami tekankan waktu itu ialah masalah makanan. Kami terus mendoktrin ibu agar makan teratur dan lebih banyak mengonsumsi sayuran terutama buncis, brokoli, pare dan bawang merah. Ibu juga tidak boleh mengkonsumsi gula biasa melainkan harus gula 0 kalori.

Dan yang lebih penting kami juga terus memberikan semangat agar ibu selalu mengucap syukur untuk setiap hari yang ia lalui. Ibu harus selalu berusaha untuk sembuh sambil berserah kepada kemurahan kuasa Tuhan.

Cepat sembuh ya Bu. Doa kami selalu bersamamu