Hari Kedua: Awal Pemberian Obat
Minggu, 22 Januari. Istri saya memutuskan pulang dulu untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya yang diperlukan selama di rumah sakit. Saya merasa kasihan soalnya jarak antara RSKJS Puri Waluyo dengan rumah di Sukoharjo lebih kurang 40 km lebih. Namun, karena itu adalah pilihan terbaik, mengingat anak kami Ime, tentu juga kangen sama mamanya maka saya membiarkan istri pulang dulu. Terus terang saya merasa berat ketika harus jaga sendiri. Hari ini kondisi ibu tampak sangat lemah, mungkin juga pengaruh suntikan yang diberikan kemarin.
Pagi hari setelah makan, saya memberikan ibu obat dari rumah sakit. Beruntung ibu termasuk mudah dalam meminum obat. Saya pun tidak menjumpai kesulitan saat memberikan obat untuk ibu. Pengaruh obat dan juga suntikan sebenarnya masih sangat besar, namun entah kenapa pikiran ibu seolah-olah jalan terus. Tangannya tidak henti-hentinya bergerak seolah sedang melakukan sesuatu. Kadang mata ibu terpejam dengan sendirinya, tetapi sekian detik kemudian melek lagi sambil tangannya berusaha menggapai sesuatu.
Siang harinya, kakak ipar saya, Mas Joko sekeluarga dan dengan tim doa dari gerejanya datang mendoakan ibu. Saya hampir saja menangis ketika mereka berdoa. Saya katakan kepada mbak Ana (istri mas Joko) kalau saya gak tega melihat kondisi ibu. Namun, mbak Ana memberikan penghiburan bahwa ibu baik-baik saja.
Sorenya istri datang di temani mbak Tantri, kakaknya istriku. Mbak Tantri banyak memberikan penghiburan untuk ibu yang tentu saja membuat ibu senang.
Saya senang melihat kedatangan mbak Ana dan juga mbak Tantri. Saya sudah tidak berharap mereka akan datang soalnya jarak antara rumah dan rumah sakit yang sangat jauh. Tetapi ternyata mereka datang. Dan itu memberikan kekuatan bagi saya yang pada waktu itu sedang mengalami lemah iman.

Malam harinya ibu disuntik lagi. Ibu pun bisa kembali tidur walau awalnya tidaklah tenang. Saya dan istri justru menghabiskan waktu untuk berbagi dan berdoa. Saya mengakui kalau saya tidak siap dengan kondisi seperti ini. Dengan sabar istri memberikan pengertian agar saya berdoa memohon kekuatan agar di beri keiklasan dari Tuhan untuk menghadapi ujian ini.
Saya sangat bersyukur mendapatkan tulang rusuk yang luar biasa hebatnya yaitu istri saya Puji Arya Yanti
Terima Kasih Tuhan untuk Istri yang memberikan kekuatan kepadaku
Hardono adalah
Saya adalah seorang anak, suami, ayah, pengrajin website, pengguna teknologi selular, penikmat musik, film, buku, olahraga, dan senang mengkritik para politikus saat ini. Melalui blog ini saya ingin mencoba berbagi berbagai hal yang saya temui dalam perjalanan kehidupan saya kepada para pembaca. Semoga blog ini memberkati Anda.
Archives
Recent Posts
- Seminggu Ibu di Rumah
- 5 Efek Samping Mengerikan dari Antibiotik Kimiawi
- Hari Kelimabelas: Hari Terakhir di Puri Waluyo
- Hari Keempatbelas: Ibu Mau Dibawa Pulang
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah.
- Hari Ketigabelas: Kami Ingin Membawa Ibu Pulang
- Hari Keduabelas : Ibu Menjalani Rekam Otak (EEG)
- Hari Kesebelas: Ibu Mulai Membaik dan Semoga Terus Membaik
- Hari Kesepuluh: Ibu Mulai Membaik
- Mengapa Ibu Depresi
Recent Comments
- gamat luxor solusi penyakit on 5 Efek Samping Mengerikan dari Antibiotik Kimiawi
- faamu on Registrasi Paket CDMA XL
- yustus sakan on Mencari Informasi Beasiswa Kristen
- baju anak on Mencoba Internet Menggunakan AHA
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah. | /Hardono ada di sini on Ibuku Seperti Orang Linglung
- hei on Haruskah Beribadah di Gereja setiap Hari Minggu?
- saut p on Mencari Informasi Beasiswa Kristen
- Kidz on Ganti Gambar saat Mouse Over
- Fajar Y Koswara on Teenlit Tidak Harus Tentang Cinta – Sebuah Pandangan untuk Novel Warrior : Sepatu Untuk Sahabat
- fathurrahman on Ibuku Sakit Diabetes





