Hari Pertama: Kebal Obat Penenang
Sabtu, 21 Januari. Pagi hari saya membawa ibu ke RS Dr Oen Solo Baru. Saya ceritakan semua masalah termasuk penyakit diabetes yang diderita oleh ibu. Ternyata pihak Dr Oen menyatakan ketidaksanggupan mereka dan menyuruh kami ke Rumah Sakit Khusus Jiwa dan Saraf Puri Waluyo (RSKJS Puri Waluyo) di Solo. Berdasarkan catatan tes gula dan tensi ternyata gula darah ibu tidak terlalu tinggi yaitu 199 mg/dL tetapi tensinya sampai 220.
Uniknya saat di Dr Oen, kami bertemu dengan sahabat kami, Kristian Novianto. Di kemudian waktu kami tahu ibunya mengalami keracunan obat yang menyebabkan pembengkakan jantung dan lendir yang berlebihan di paru-parunya. Kami hanya bisa berdoa semoga ibu Hebru bisa segera pulih seperti sedia kali.
Dengan naik taksi, kami berangkat ke RSKJS Puri Waluyo Solo. Oleh perawat yang jaga (atas saran dokter) ibu disuntik agar tenang. Tapi kenyataannya ibu tetap belum tenang. Selang dua jam kemudian ibu disuntik lagi. Namun tetap saja belum tenang.

Salah seorang dokter jaga pada waktu itu menyarankan agar ibu diikat dan ditinggal pergi sehingga beliau dapat beristirahat dengan tenang. Beberapa saat setelah diikat ibu justru berteriak dan menangis, memohon supaya tali yang mengikat tangan dan kakinya dilepas. Saya dan istri sedih dengan hal ini. Namun tekad kami sudah bulat, kami harus tutup mata dan telinga, supaya ibu dapat beristirahat.
Beberapa saat kemudian dokter ahli saraf dan jiwa yaitu Prof. Dr. Ibrahim Nuhriawangsa SpS SpKJ datang untuk memeriksa ibu. Setelah diberi tahu kondisi ibu, beliau menyarankan agar di suntik lagi dan dosisnya ditambah. Beliau juga mengatakan kalau ibu mengalami depresi, namun depresi ini memang bisa mengarah ke saraf juga.
Profesor juga menyarankan agar dosis suntikan ibu ditambahi lagi. Kira-kira pukul 14.15 ibu di suntik lagi sesuai dosis anjuran Profesor. Ibu masih sempat bergerak-gerak ingin melepaskan diri hingga akhirnya pukul 14.45 ibu tertidur sampai keesokan harinya. Puji Tuhan, kami agak lega karena ibu sudah dapat tidur.
Malam harinya istri saya menemani saya menjaga ibu. Ironisnya istri saya justru terserang pilek karena kedinginan. Maklum tujuan semula kami hanya ingin memeriksakan ibu, tanpa ada niat menginap di rumah sakit. Oleh karena itu kami tidak membawa bekal bekal selimut, baju ganti, peralatan mandi, dll. Beruntunglah teman saya Heri Sasono, berkenan membawakan selimut dan sprei untuk dipakai tidur istri saya. Saya pun melewati malam itu dengan perasaan sedikit lega, ibu sudah tidur, istri juga tidak kedinginan.
I luv u all
Hardono adalah
Saya adalah seorang anak, suami, ayah, pengrajin website, pengguna teknologi selular, penikmat musik, film, buku, olahraga, dan senang mengkritik para politikus saat ini. Melalui blog ini saya ingin mencoba berbagi berbagai hal yang saya temui dalam perjalanan kehidupan saya kepada para pembaca. Semoga blog ini memberkati Anda.
Archives
Recent Posts
- Seminggu Ibu di Rumah
- 5 Efek Samping Mengerikan dari Antibiotik Kimiawi
- Hari Kelimabelas: Hari Terakhir di Puri Waluyo
- Hari Keempatbelas: Ibu Mau Dibawa Pulang
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah.
- Hari Ketigabelas: Kami Ingin Membawa Ibu Pulang
- Hari Keduabelas : Ibu Menjalani Rekam Otak (EEG)
- Hari Kesebelas: Ibu Mulai Membaik dan Semoga Terus Membaik
- Hari Kesepuluh: Ibu Mulai Membaik
- Mengapa Ibu Depresi
Recent Comments
- gamat luxor solusi penyakit on 5 Efek Samping Mengerikan dari Antibiotik Kimiawi
- faamu on Registrasi Paket CDMA XL
- yustus sakan on Mencari Informasi Beasiswa Kristen
- baju anak on Mencoba Internet Menggunakan AHA
- Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah. | /Hardono ada di sini on Ibuku Seperti Orang Linglung
- hei on Haruskah Beribadah di Gereja setiap Hari Minggu?
- saut p on Mencari Informasi Beasiswa Kristen
- Kidz on Ganti Gambar saat Mouse Over
- Fajar Y Koswara on Teenlit Tidak Harus Tentang Cinta – Sebuah Pandangan untuk Novel Warrior : Sepatu Untuk Sahabat
- fathurrahman on Ibuku Sakit Diabetes





