Selasa, 17 Januari 2012, sore hari saya menelpon ibu untuk menanyakan kabar beliau sekaligus mohon maaf belum sempat sowan ke sana. Awalnya pembicaraan berjalan lancar sampai akhirnya ibu bercerita soal KTPnya yang hilang. Saya agak kaget mendengar cerita ibu, bukan karena KTPnya yang hilang melainkan gaya bercerita ibu yang menempatkan saya seolah-olah sudah tahu kalau KTP beliau hilang. Hal lainnya saya merasa ibu sedang bercerita dengan orang lain. Akhirnya saya cuma menganggap ibu mungkin kadar gulanya sedang tinggi, jadi bicaranya sedikit kayak orang bingung.

Rabu, 18 Januari
Pagi hari saya kembali menelpon ibu. Awalnya ibu memang lancar bercerita namun lama-lama ibu bicaranya ngawur. Saya langsung telepon istri saya untuk menelepon ibu biar ibu senang karena dihubungi mantunya. Beberapa saat kemudian istri saya menghubungi kalau ia akan mengunjungi ibu karena ibu bicaranya sudah tidak jelas.

Siang hari saya mendapatkan kabar dari sang istri bila keadaan ibu seperti orang linglung alias stres alias pikun. Rumah di Solo kondisinya memprihatinkan, seperti kapal pecah, nasi, beras, kertas, dan uang tersebar di mana-mana. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa ibu ke Sukoharjo.

Sampai di Sukoharjo, ibu memang kelihatan sangatlah lemas. Beliau bahkan sudah tidak mengenali rumah di Sukoharjo lagi. Saya pikir karena beliau sedang sakit dan rumahnya sekarang di kasih kerai jadi agak berbeda dengan waktu terakhir ibu ke Sukoharjo. Beliau langsung kami suruh istirahat. Malam harinya ibu mengeluh karena kepalanya sakit. Kamipun mencoba untuk menghibur dan sebentar kemudian ibu sudah bisa istirahat

Kamis, 19 Januari
Pagi hari saya dengan kakak menghantarkan ibu ke bidan langganan keluarga saya. Di sana ibu bidan menduga kalau ada kemungkinan diabetes sudah mulai menyerang saraf. Beliau menyarankan agar kami memeriksakan ibu ke dokter saraf untuk berjaga-jaga. Sedangkan tes darahnya menunjukkan normal.

Setelah sampai di rumah, ibu langsung saya suapi dan setelah itu minum obat. Selain itu ibu juga mengkonsumsi obat herbal biojana yang biasanya ibu konsumsi. Hari itu ibu lebih banyak beristirahat dengan tenang. Kami senang karena ibu kelihatannya mulai membaik

Jumat, 20 Januari
Karena kami merasa ibu sudah mulai membaik maka pagi hari kami menyarankan ibu untuk bangun. Ibu pun bangun dan duduk di luar. Walaupun secara fisik ibu mulai membaik namun saya merasa ada beberapa keanehan yaitu

  • Ibu tidak banyak bercerita, biasanya kalau ibu sehat maka beliau akan banyak bercerita.
  • Ibu mendengar sesuatu yang justru tidak saya dengar
  • Ibu melihat sesuatu yang tidak saya lihat

Namun, saya pikir semuanya itu wajar. Saya masih berpikir kalau hal itu terjadi karena kadar gula ibu masih tinggi. Nanti, kalau sudah turun pasti normal kembali. Seharian ibu tidak dapat tidur dan kadang sibuk mengejar halusinasinya sendiri.

Malamnya, ibu yang secara fisik sudah capek masih juga belum dapat tidur. Halusinasi yang beliau alami justru semakin parah. Beliau mengira tempat tidur adalah becak dan ingin turun. Sewaktu turun beliau merasa jalannya naik dan berlubang jadi jalannya harus hati-hati. Padahal kenyataannya tidak. Ibu menerjang tembok dan kaca dan mencoba membukanya. Dalam pikiran dia itu adalah jalan. Karena terlalu brutal dalam berhalusinasi sampai-sampai ibu jari kaki beliau berdarah karena terantuk benda keras.

Saya dan istri sangat kualahan meredam halusinasi ibu. Berulang kali kami mengingatkan beliau untuk berdoa, memanggil nama Tuhan Yesus. Uniknya beliau bisa berdoa dengan lancar tetapi selesai berdoa, sebentar kemudian halusinasi itu terjadi lagi.

Semalaman saya dan istri tidak dapat tidur karena sibuk meladeni halusinasi ibu. Masalahnya lagi ketika saya coba tegas, ibu justru tidak mengenali saya.

Pagi hari saya memutuskan untuk membawa ibu ke rumah sakit. Saya masih berpikir bahwa penyakit ibu terjadi karena kadar gulanya sedang tinggi.

Tagged with:
 

One Response to Ibuku Seperti Orang Linglung

  1. [...] ibu ingin pulang lalu dicegah dan akibatnya kondisi ibu kembali labil. Sebelum di rumah sakit, hari Jumat, 20 Januari 2012 sore, Ibu menyatakan ingin pulang. Saya cegah dan meminta ibu agar tinggal di Sukoharjo dulu. [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>