<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/Hardono ada di sini &#187; Diary</title>
	<atom:link href="http://hardono.melesat.com/category/diary/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardono.melesat.com</link>
	<description>sebuah catatan perjalanan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:15:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hari Keempatbelas: Ibu Mau Dibawa Pulang</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-keempatbelas-ibu-mau-dibawa-pulang/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-keempatbelas-ibu-mau-dibawa-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 09:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jumat, 3 Februari. Karena pengaruh obat penenang dan Luften hari ini ibu menghabiskan waktu untuk lebih banyak tidur. Sebelum berangkat kerja saya dan istri tercinta merencanakan untuk membawa pulang ibu. Kami memang belum tahu apakah hal ini merupakan kehendak Tuhan atau emosi kami saja namun kami harus memilih. Pilihan kami yaitu membawa pulang ibu secepatnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat, 3 Februari. Karena pengaruh obat penenang dan Luften hari ini ibu menghabiskan waktu untuk lebih banyak tidur. Sebelum berangkat kerja saya dan istri tercinta merencanakan untuk membawa pulang ibu. Kami memang belum tahu apakah hal ini merupakan kehendak Tuhan atau emosi kami saja namun kami harus memilih. Pilihan kami yaitu membawa pulang ibu secepatnya, kalau tidak Sabtu ya Minggu. Semoga ini bukan pilihan yang salah.<br />
<span id="more-752"></span><br />
Berhubung ibu lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur maka suntikan obat pun dihentikan untuk sementara. Terus terang saya sebenarnya ngeri melihat proses penyuntikan. Obat tersebut harus disuntikkan lewat pembuluh darah. Untuk mengetahui apakah suntikan sudah pas atau belum maka darah akan diambil dulu baru kemudian disuntikkan lagi bersama dengan obatnya. Nah, malam kemarin ternyata perawat yang menyuntik perlu 3 kali usaha menyuntik untuk menemukan pembuluh darah yang tepat. Sebelumnya di siang hari saat disuntik pada pembuluh darah di dekat tangan, ibu mengaduh kesakitan yang langsung membuat perawat bingung lalu mencabut suntikan yang sebenarnya sudah pas. </p>
<p>Saya pribadi malah berharap ibu agar tidur saja biar tidak disuntik lagi <img src='http://hardono.melesat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Siang harinya istri datang dengan membawa obat herbal yaitu Melia Propolis. Maaf ini saya bukan bermaksud untuk promosi. Saya tertarik dengan obat ini setelah membaca kesaksian dari internet dan kesaksian teman-teman istri yang telah menggunakan obat yang dihasilkan dari lebah ini. </p>
<p>Hal lain yang membuat saya suka karena obat ini bersifat tetes yang dicampur dengan air. Dengan demikian ibu tidak sadar saat diberi obat ini <img src='http://hardono.melesat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sebelumnya saya telah memberikan beberapa jenis obat herbal untuk ibu, dan saya amati ibu kurang suka bila obat tersebut berbentuk sirup.</p>
<p>Berhubung obat medis sudah terlalu banyak (sekitar 6 pil untuk sekali minum) maka propolis merupakan pilihan yang tepat. Pemberian dalam bentuk tetes yang dicampur air putih memungkinkan saya untuk mengobati ibu sesuai kontrol dari saya, tanpa ibu tahu hehe.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/02/jesus_bless.jpg" alt="Yesus Memberkati" title="Yesus Memberkati" border="0"></div>
<p>Walau tidak bertemu namun saya dan istri tetap berhubungan melalui hp terutama membicarakan masalah kepulangan ibu. Saya juga menghubungi beberapa teman dan saudara untuk meminta pendapat mereka dan mereka mendukung keinginan saya. Begitu juga saat ibu mendapat kunjungan dari majelis blok 3 GKJ Manahan, Surakarta, saya utarakan keinginan tersebut dan mereka ikut mendukung. Saya berpikir berbagai dukungan tersebut sebagai kekuatan untuk saya melangkah.</p>
<p>Malam hari, saya dokter Fanani berkunjung, saya utarakan keinginan saya. Beliau hanya menyarankan agar saya mengkonsultasikan dulu dengan Prof Ibrahim. Saya lega dengan pendapat beliau karena sebelumnya beliau terkesan melarang kepulangan ibu. </p>
<p>Hari ini saya sangatlah lelah. Doapun sering tertidur atau pikiran ngelantur kemana-mana. Saya pun tidur dan berharap kalau ibu bangun saya bisa terjaga. </p>
<p><i>Tuhan jagalah kami semua</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-keempatbelas-ibu-mau-dibawa-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Ingin Pulang, Jangan Kamu Cegah.</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-ingin-pulang-jangan-kamu-cegah/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-ingin-pulang-jangan-kamu-cegah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dari sejak awal ibu mertua (Ibu Mulyati) selalu menyarankan agar saya dan istri menuruti kehendak ibu termasuk keinginan beliau untuk pulang. Menurut beliau hati ibu bisa tertekan bila keinginannya untuk pulang di cegah. Kami sebagai anak yang seharusnya mengalah dengan mengikuti ibu ke Solo. Pendapat ini ibu Mul memang ada benarnya. Setidaknya 4 kali ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sejak awal ibu mertua (Ibu Mulyati) selalu menyarankan agar saya dan istri menuruti kehendak ibu termasuk keinginan beliau untuk pulang. Menurut beliau hati ibu bisa tertekan bila keinginannya untuk pulang di cegah. Kami sebagai anak yang seharusnya mengalah dengan mengikuti ibu ke Solo. Pendapat ini ibu Mul memang ada benarnya. Setidaknya 4 kali ibu ingin pulang lalu dicegah dan akibatnya kondisi ibu kembali labil.<br />
<span id="more-726"></span><br />
Sebelum di rumah sakit, <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/ibuku-seperti-orang-linglung/" title="Ibu Seperti Orang Linglung">hari Jumat, 20 Januari 2012</a> sore, Ibu menyatakan ingin pulang. Saya cegah dan meminta ibu agar tinggal di Sukoharjo dulu. Akibatnya pikiran ibu kalut (namun tidak terucapkan) yang membuat beliau depresi dan tensinya menjadi 200. Esuknya ibu masuk rumah sakit.</p>
<p>Yang kedua, kejadian pada hari <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-keempat-pagi-membaik-malam-tetap-tidak-dapat-tidur/" title="Ibu Kembali Tidak dapat Tidur">Selasa, 24 Januari</a>. Setelah sebelumnya dapat tidur pulas, esuknya badan ibu mulai membaik, dan malamnya ngedrop lagi. Bisa jadi beliau berpikiran untuk pulang, karena saat itu beliau mulai tahu kalau beliau sedang di rumah sakit.</p>
<p>Kejadian ketiga yaitu pada hari <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-ketujuh-ibu-kembali-tidak-dapat-tidur/" title="Ibu Kembali Tidak Dapat Tidur">Jumat, 27 Januari.</a> Ibu yang kondisinya mulai membaik kembali tidak dapat tidur. Beliau merasa tubuhnya sudah sehat tapi masih dilarang bila ingin ke kamar mandi atau pulang. Hal itu mungkin yang membuat ibu tambah stres</p>
<p>Yang terakhir ialah pada hari <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesebelas-ibu-mulai-membaik-dan-semoga-terus-membaik/" title="Ibu Mulai Membaik">Selasa, 31 Januari</a>. Kondisi ibu sebenarnya sudah menunjukkan arah positif alias stabil. Beliau yang merasa badannya sudah sehat terus minta pulang dan tentu saja kami tolak. Saya ingin menunggu beberapa 2-3 hari dulu untuk memastikan bahwa ibu sudah benar-benar siap untuk pulang. Tetapi ternyata penolakan ini membuat pikiran ibu kembali labil, tensi beliau yang sebelumnya 130 naik menjadi 180 dan ibu kembali gelisah.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/02/home_sweet_home.jpg" alt="Ibu Ingin Pulang" title="Ibu Ingin Pulang" border="0"></div>
<p>Melihat kondisi tersebut, mendapat masukan dari Ibu Mulyati, dan setelah ngobrol dengan istri maka kami mengambil keputusan untuk membawa ibu pulang bila beliau sudah mulai sadar. Target kami sabtu atau paling lambat minggu ini.</p>
<p>Sebenarnya saya agak takut membawa ibu pulang. Saya takut bila ibu labil kembali terus tidak dapat tidur dan pikirannya jadi kacau. Namun, istri saya yang luar biasa menguatkan saya agar tetap beriman kepada Tuhan dan yakin segala sesuatu baik-baik saja. Dia juga mengingatkan saya ketika ibu sakit diabetes dan diajak pulang ke Solo, ibu justru nampak lebih sehat daripada ketika beliau diajak ke Mulur.</p>
<p>Persoalan berikutnya muncul dari dokter yang menyarankan agar ibu sebaiknya di sini dulu sampai benar-benar stabil. Kondisi ibu yang seperti ini disebabkan oleh otak beliau yang sudah rusak. Kalau otaknya sudah membaik maka kondisinya juga akan ikut membaik. Teori ini memang masuk akal juga. Teori ini pula yang membuat saya berpikir apakah keinginan untuk mengajak ibu pulang merupakan emosi sesaat atau benar kehendak-Nya.</p>
<p>Saya dan istri hanya bisa berdoa memohon kekuatan dari Tuhan untuk melalui jalan yang Ia tentukan untuk kami. Dan hikmat agar tahu mana yang menjadi jalan-Nya yang harus kami lalui. Segala kebingungan bagaimana ibu bila nanti di rumah tidak stabil, bagaimana bila membawa ibu pulang hanya emosi kami, dan bagaimana yang lain ke hadapan Tuhan.</p>
<p>Sebagai manusia kami hanya bisa memilih untuk melalui jalan-Nya atau menghindar. Kami memilih untuk melalui jalan-Nya.</p>
<p><i>Tuhan beri kami hikmat dan kekuatan untuk melalui semuanya ini</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-ingin-pulang-jangan-kamu-cegah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Ketigabelas: Kami Ingin Membawa Ibu Pulang</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-ketigabelas-kami-ingin-membawa-ibu-pulang/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-ketigabelas-kami-ingin-membawa-ibu-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kamis, 2 Februari. Pukul 3.00 dini hari ternyata ibu belum juga tidur. Selain berteriak, ibu juga sudah mulai meracau sendiri terutama yang berkaitan dengan masa lalu, keluarga yang sudah tidak ada, atau Ime. Pukul 3.30, setelah menjemur pakaian, saya hampiri ibu dan membuka tali pengikatnya. Saya lap keringat di tubuh ibu dan ganti pakaian beliau. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 2 Februari. Pukul 3.00 dini hari ternyata ibu belum juga tidur. Selain berteriak, ibu juga sudah mulai meracau sendiri terutama yang berkaitan dengan masa lalu, keluarga yang sudah tidak ada, atau Ime. Pukul 3.30, setelah menjemur pakaian, saya hampiri ibu dan membuka tali pengikatnya. Saya lap keringat di tubuh ibu dan ganti pakaian beliau. Saya berharap tindakan ini dapat menenangkan beliau.<br />
<span id="more-722"></span><br />
Pukul 6.00 pagi, saya <i>sibini</i> ibu yang tubuhnya sudah mulai lemas. Setelah itu saya menyuapi ibu sarapan. Dari aktivitas sarapan tersebut saya tahu kalau fisik ibu sudah tidak kuat dan antara perintah otak dan mulut susah untuk nyambung. Hal ini terlihat ketika bubur yang saya berikan hanya beliau kulum. Pun ketika saya memberikan air minum, beberapa kali cuma beliau kulum yang akibatnya menetes di mulut. Saya hentikan sarapannya dan memberikan obat.</p>
<p>Selesai aktivitas itu ibu masih gelisah hingga akhirnya beliau menemukan cara tidur yang nyaman yaitu meringkuk menghadap ke samping. Namun, walau tubuhnya tenang tetapi mata beliau masih melek, dan sering meracau sendiri. Tangannya juga masih suka bergerak sendiri walau sudah sangat jarang.</p>
<p>Siang hari saya bangunkan ibu lalu mengajak makan. Seperti saat sarapan, kali ibu bubur kedua yang masuk ke mulut cuma dikulum dan ibu tidur. Saya berusaha untuk memasukkan makanan itu ke perut dengan cara memberi minum sebanyak-banyaknya. Tapi tetap saja ada beberapa yang masih tertinggal di mulut. Dari pada bingung saya biarkan saja sambil berharap tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Selesai makan siang ibu kembali tidur dengan mata terpejam. Tangan beliau kadang suka bergerak sendiri namun tidak terlalu sering.</p>
<p>Sore harinya Istri tercinta datang. Seperti biasa kami langsung berbagi banyak kejadian yang kami alamai. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk anugerah istri yang sangat baik dan luar biasa.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/02/rindu-rumah.jpg" alt="Pengen Pulang" title="Pengen Pulang" border="0"></div>
<p>Kami merencanakan untuk membawa ibu pulang bila kondisi ibu sudah agak stabil. Dalam pengertian beliau sudah agak sadar dan kuat untuk bergerak. Rencananya ibu akan kami ajak ke rumah di Solo terlebih dahulu, setelah itu kami tawari untuk tinggal di Mulur.</p>
<p>Rencana ini kami pandang perlu mengingat kondisi ibu langsung labil begitu beliau meminta untuk pulang yang tentu saja kami tolak sebab kesehatan beliau belum pulih. Kami tidak ingin siklus ini terus berulang tanpa ada perkembangan berarti pada ibu.</p>
<p>Namun, sayangnya dokter Fanani menolak usulan ini. Beliau beranggapan kondisi ibu yang seperti itu karena memang otaknya yang bermasalah. Nanti kalau otaknya sudah pulih kondisinya akan stabil kembali. Pendapat beliau memang ada benarnya namun bagi saya penyembuhan akan sulit terjadi bila hati tetap merasa sedih.</p>
<p>Saya dan istri terus memohon kekuatan dari Tuhan mengenai keputusan kami untuk membawa ibu pulang. Terus terang kami belum tahu apakah hal ini hanya emosi kami atau memang kehendakNya.</p>
<p><em>Tuhan ajari kami mengerti kehendak-Mu</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/02/hari-ketigabelas-kami-ingin-membawa-ibu-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Keduabelas : Ibu Menjalani Rekam Otak (EEG)</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-menjalani-rekam-otak-eeg/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-menjalani-rekam-otak-eeg/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 07:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rabu, 1 Februari 2012. Awal bulan kedua di tahun 2012 ini dijalani ibu dengan belajar jalan. Walau hanya 2 kali memutari kamar namun ibu nampak sangat bahagia sekali. Setelah itu saya ajak ibu jalan-jalan dengan naik kursi roda. Saya ajak keluar agar ibu tidak merasa bosan. Pagi ini ibu bisa diajak berkomunikasi. Ibu juga kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 1 Februari 2012. Awal bulan kedua di tahun 2012 ini dijalani ibu dengan belajar jalan. Walau hanya 2 kali memutari kamar namun ibu nampak sangat bahagia sekali. Setelah itu saya ajak ibu jalan-jalan dengan naik kursi roda. Saya ajak keluar agar ibu tidak merasa bosan. Pagi ini ibu bisa diajak berkomunikasi. Ibu juga kembali ke wataknya semula, suka bercerita.<br />
<span id="more-716"></span><br />
Saat ini di luar saya katakan pada ibu bahwa nanti saya akan mengajak beliau tinggal serumah bersama dengan saya, istri, dan Ime, cucunya tercinta. Respon ibu sangatlah baik. Beliau tertawa gembira dengan ajakan tersebut. Saya juga mengajak ibu untuk sementara tinggal di rumah Sukoharjo, sampai nanti mendapatkan rumah baru. Ibu juga menyanggupinya.</p>
<p>Saya gembira melihat kemajuan yang dialami oleh ibu. Namun, siapa sangka kalau kemajuan ibu hanya sementara. Hari ibu kondisi pikiran ibu kembali labil, walau secara fisik sudah mulai sehat. Saat kembali ke kamar ibu mulai berbicara yang tidak jelas dan mengajak untuk pulang. Saya biarkan beliau pulang dan ternyata beliau baru sadar kalau belum kuat berjalan. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk pulang. <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-ketujuh-ibu-kembali-tidak-dapat-tidur/" title="Ibu Tidak Dapat Tidur Lagi">Kejadian hari Jumat</a> terulang lagi.</p>
<p>Saya menduga yang menyebabkan ibu kembali labil adalah <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesebelas-ibu-mulai-membaik-dan-semoga-terus-membaik/" title="Ibu Ingin Pulang">keinginannya untuk pulang</a> yang tidak dituruti. Akibatnya kemarin malam tensi ibu melonjak jadi 180. Konyolnya obat Luften yang saya berikan ternyata belum tertelan dan justru jatuh. Lengkap sudah alasan yang membuat tidur ibu jadi gelisah. Akibatnya hari ini ibu jadi gelisah terus. Secara fisik ibu membaik dan secara pikiran kembali labil.</p>
<p>Sorenya ibu menjalani tes EEG (Elektroensephalogram) yaitu proses perekaman pada otak. Dari tes itu nanti ketahuan bagian otak mana yang bermasalah dan perlu segera ditangani.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/02/electroencephalography.jpg" alt="EEG" title="EEG" border="0"></div>
<p>Malam harinya sehabis pemeriksaan oleh Prof Ibrahim, beliau memanggil saya untuk menjelaskan hasil EEG. Berhubung saya tidak paham bahasa kedokteran apalagi EEG maka yang saya tangkap adalah inti dari penjelasan beliau bahwa sebagian besar otak ibu sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Beliau akan melakukan terapi pemberian obat selama 3 bulan. Setelah itu ibu akan diperiksa EEG lagi untuk mengetahui apakah apa perbaikan pada otak beliau.</p>
<p>Sewaktu saya menanyakan tingkat keberhasilan pengobatan, beliau menjelaskan biasanya tingkat keberhasilan 50% walau sebenarnya hasil satu orang dengan yang lain bisa berbeda. Sedangkan 50% yang tidak berhasil disembuhkan itu akan mengalami lupa ingatan. Hal ini sepertinya mulai nampak pada Ibu. Beliau sudah lupa dimana rumahnya sekarang. Yang beliau ingat justru rumah yang dulu dan sekarang sudah dibeli orang lain. Dan, bila kerusakan ini tidak segera ditangani akan menyebabkan kelumpuhan dan dampak serius lainnya.</p>
<p>Saya sedih waktu mendengar kabar ini, namun tingkat kesedihannya lebih rendah dibanding ketika mendengar kabar bahwa ibu mengalami gejala stroke. Saya percaya kekuatan ini berasal dari Tuhan.</p>
<p>Malam harinya, sekitar pukul 22.00 saya memberikan Luften kepada ibu. Berhubung ibu masih gelisah maka saya meminta perawat untuk menyuntik ibu. Sebenarnya ini adalah pilihan sulit sebab dampak suntikan akan membuat tubuh ibu jadi lemas. Namun kalau tidak disuntik, ibu tidak tenang dan pikirannya akan semakin kacau.</p>
<p>Obat Luften dan suntikan dengan dosis yang besar tersebut ternyata tidak mempan untuk menenangkan ibu. Ibu justru tambah semangat ingin pulang dan melakukan hal lain sesuai halusinasinya.</p>
<p>Sebenarnya saya kasihan bila harus mengikat tangan dan kaki ibu. Namun, karena kondisi yang sudah tidak dapat dikendalikan dengan terpaksa tangan dan kaki ibu saya ikat. Harapannya agar ibu dapat tenang tapi kenyataannya ibu justru berontak dan berteriak-teriak. Saya coba cuek lalu saya tinggal tidur.</p>
<p><em>Tuhan, saya sudah capek dengan hal ini, namun biarlah kehendakMu saja yang jadi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/02/ibu-menjalani-rekam-otak-eeg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kesebelas: Ibu Mulai Membaik dan Semoga Terus Membaik</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesebelas-ibu-mulai-membaik-dan-semoga-terus-membaik/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesebelas-ibu-mulai-membaik-dan-semoga-terus-membaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 15:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[<p>Selasa, 31 Januari. Segala sesuatunya berjalan normal di akhir bulan Januari ini. Ibu masih banyak beristirahat namun juga sudah sering terjaga. Saat beliau terjaga biasanya saya ajak duduk atau berbicara agar ibu bisa tetap tenang dan tidak melamun. Namun, tidak jarang saya biarkan saja sehingga ibu melamun sendiri.<br /> <br /> Pikiran ibu mulai lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasa, 31 Januari. Segala sesuatunya berjalan normal di akhir bulan Januari ini. Ibu masih banyak beristirahat namun juga sudah sering terjaga. Saat beliau terjaga biasanya saya ajak duduk atau berbicara agar ibu bisa tetap tenang dan tidak melamun. Namun, tidak jarang saya biarkan saja sehingga ibu melamun sendiri.<br />
<span id="more-712"></span><br />
Pikiran ibu mulai lebih baik dari hari sebelumnya. Salah satu contohnya ialah ketika beliau mulai kuatir karena saya belum makan. Ibu biasanya memang sering menyuruh saya makan bila waktu makan sudah tiba. Ketika diajak bicara pun juga sudah bisa nyambung. Namun, karena pendengarannya agak terganggu menyebabkan komunikasi kadang macet. </p>
<p>Sewaktu diperiksa oleh dokter Fanani ternyata tekanan darah ibu kembali tinggi yaitu 180, padahal kemarin 130. Beliau kemudian menambahkan obat untuk menjaga tekanan darah ibu. Sewaktu saya tanya kapan boleh berobat jalan, beliau menyarankan untuk menunggu dulu soalnya tekanan darahnya masih tinggi. Ibu juga disarankan untuk EEG (Elektroensephalogram) terlebih dahulu.</p>
<p>EEG adalah seperangkat instrumen untuk menangkap aktifitas listrik di otak. Sinyal EEG dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit yang berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Sinyal EEG dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang terhadap rangsangan luar. </p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/EEG.jpg" alt="Tekanan Darah" title="Tekanan Darah" border="0"></div>
<p>Saya sendiri menyadari bahwa tekanan darah ibu bertambah tinggi karena beliau sudah ingin pulang. Beliau memang enggan di rumah sakit karena masalah biaya dan kasihan melihat anak dan mantunya menjaga beliau terus. Saya dan istri berusaha menenangkan ibu agar tidak perlu kuatir soal biaya dan kami tidak mempermasalahkan merawat ibu dan berharap agar ibu cepat sembuh. Kami menyarankan agar ibu tetap di rumah sakit sampai sembuh agar besuk tidak perlu kembali ke sini lagi. Bila pulang sekarang besuk kalau sakit lagi maka nanti akan kesini lagi.</p>
<p>Saya sadar pengertian ini tidak langsung dapat diterima oleh ibu. Oleh karena itu saya berusaha memberikan pengertian terus menerus dengan harapan ibu mau mengerti.</p>
<p>Saya pribadi sebenarnya juga berharap bisa segera pulang. Harapan saya, minggu ini ibu sudah boleh pulang. Demikian juga harapan istri tercinta yang hari ini menemani saya menjaga ibu. </p>
<p><em>Terima kasih Tuhan untuk penyertaan-Mu selama ini, semoga ibu bisa segera pulang</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesebelas-ibu-mulai-membaik-dan-semoga-terus-membaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kesepuluh: Ibu Mulai Membaik</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesepuluh-ibu-mulai-membaik/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesepuluh-ibu-mulai-membaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 03:31:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[<p>Senin, 30 Januari. Pagi hari saya mendapatkan hasil CT Scan ibu dari Mas Nugraha, satpam di RSKJS Puri Waluyo. Beliau mengambilkan hasil CT Scan di RS Panti Waluyo. Kesimpulan dari hasil CT Scan tersebut menunjukkan bahwa di kepala ibu tidak ditemukan adanya kelainan. Hal ini tentu saja membuat saya senang tetapi juga masih ragu. Sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin, 30 Januari. Pagi hari saya mendapatkan hasil CT Scan ibu dari Mas Nugraha, satpam di RSKJS Puri Waluyo. Beliau mengambilkan hasil CT Scan di RS Panti Waluyo. Kesimpulan dari hasil CT Scan tersebut menunjukkan bahwa di kepala ibu tidak ditemukan adanya kelainan. Hal ini tentu saja membuat saya senang tetapi juga masih ragu. Sebab sebelumnya perawat mengatakan kalau terdapat <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesembilan-ibu-menjalani-ct-scan/" title="Ibu Menjalani CT Scan">penyumbatan pada pembuluh otak</a> ibu yang bisa menyebabkan stroke. Untuk menunggu kesimpulan tetapnya memang harus menunggu dokter Ibrahim yang kunjungannya akan dijadwalkan hari Rabu. Saya sendiri berharap kalau di kepala ibu memang benar-benar tidak ditemukan kelainan apa-apa.<br />
<span id="more-708"></span><br />
Sejak pukul 21.00 kemarin malam sampai pukul 9.00 pagi, ibu diwajibkan untuk puasa karena akan diambil sampel darahnya untuk diteleti di laboratorium Prodigia. Sekitar pukul 9.00 pihak Prodigia datang untuk mengambil darah ibu yang pada waktu itu masih tertidur pulas.</p>
<p>Pukul 10.00 pagi ibu terbangun dan langsung saya tawari ganti baju. Ibu pun menyetujuinya. Setelah makan, ibu saya beri obat. Saya tawarkan pada ibu kalau beliau mau duduk dan beliaupun menyanggupinya. Dari jendela ibu melihat keluar. Saya kasihan ketika melihat ibu dalam kondisi terkurung di kamar selama 10 hari berturut-turut. Semoga ibu segera sembuh.</p>
<p>Saat ibu masih duduk, ibu Mujiono dan anaknya warga blok III GKJ Manahan, Surakarta datang menengok ibu. Ibu kelihatan senang sekali. Setelah ngobrol sejenak, ibu Mujiono mengajak ibu berdoa yang langsung direspon oleh ibu. Terima kasih untuk kunjungan, perhatian, dan doanya bu, mbak.</p>
<p>Hari ini kondisi ibu mengalami kemajuan di bandingkan sebelumnya. Ibu memang masih banyak tidur namun ketika bangun tenaganya sudah kembali pulih walau belum 100%. Ketika berbicara suara ibu memang masih pelan namun beliau juga sudah bisa diajak berkomunikasi sekalipun hanya sedikit-sedikit. Tangan ibu kadang memang masih suka bergerak sendiri namun <i>intensitasnya</i> sangatlah sedikit sekali.</p>
<p>Malam hari seperti biasa dokter Fanani datang memeriksa kondisi ibu. Beliau menyampaikan kalau ternyata gula ibu 130 mG/dL demikian juga tensinya yang sudah menunjukkan angka 130. Hal ini tentu saja membuat saya gembira. Saya berharap semoga gula ibu tetaplah stabil.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/mas_idi.jpg" alt="Pdt Idi Bangun" title="Pdt Idi Bangun" border="0"></div>
<p>Sekitar pukul 19.00, mas Idi datang berkunjung. Berhubung ibu sudah (masih) tertidur maka kesempatan itu kami gunakan untuk ngobrol banyak hal. Lumayan lah untuk mengusir rasa bosan akibat jaga terus-menerus selama 10 hari. Saya meminta batuan mas Idi untuk konseling dengan ibu bila ibu nanti sembuh. Tujuan saya agar iman ibu semakin kuat. Hal ini mengingat mas Idi adalah Pendeta GKJ Sukoharjo dan ibu sangat menghormati beliau.</p>
<p>Pukul 21.00, mas Idi pulang, sayapun juga ikut tidur. Namun kadang masih terbangun untuk memeriksa keadaan ibu.</p>
<p><em>Selalu bersyukur untuk anugerah dari Sorga</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesepuluh-ibu-mulai-membaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Ibu Depresi</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/mengapa-ibu-depresi/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/mengapa-ibu-depresi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 02:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[ibuku depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya tidak pernah berpikir bahwa ibu akan terkena depresi. Sampai saat ini pun apa yang menyebabkan ibu depresi juga belum diketahui. Bagaimana bisa diketahui bila ibu belum bisa diajak berkomunikasi. Semua yang saya ungkapkan disini hanyalah hipotesa alias kesimpulan sementara yang menyebabkan ibu depresi sehingga masuk ke Rumah Sakit.<br /> <br /> Depresi karena Diabetes</p> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak pernah berpikir bahwa ibu akan terkena depresi. Sampai saat ini pun apa yang menyebabkan ibu depresi juga belum diketahui. Bagaimana bisa diketahui bila ibu belum bisa diajak berkomunikasi. Semua yang saya ungkapkan disini hanyalah hipotesa alias kesimpulan sementara yang menyebabkan ibu depresi sehingga masuk ke Rumah Sakit.<br />
<span id="more-703"></span><br />
<b>Depresi karena Diabetes</b></p>
<p>Pada awalnya saya menduga kalau saraf ibu mulai terserang akibat penyakit diabetes beliau yang menyebabkan beliau berhalusinasi. Namun ternyata yang dialami ibu ialah depresi alias gangguan pada jiwanya. </p>
<p>Setelah browsing ke sana kemari ternyata memang ada keterkaitan antara <a href="http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=1956" title="Gangguan Depresi pada Pasien Diabetes Melitus" rel="nofollow" target="_blank" >penyakit diabetes dengan depresi</a>. Ketatnya pola makan dan penyakit yang tidak kunjung sembuh dapat menyebabkan seorang penderita diabetes mengalami ibu.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/diabetes.jpg" alt="Diabetes" title="Diabetes" border="0"></div>
<p>Yang terjadi pada ibu (hipotesa saya) adalah bahwa ibu depresi karena beliau sudah berusaha mengatur makanan, kontrol kadar gula secara teratur, minum obat dari dokter, dan herbal secara teratur namun kadar gulanya tetaplah tinggi. Sejak ibu divonis <a href="http://hardono.melesat.com/2010/01/ibuku-sakit-diabetes/" title="Ibu Kena Diabetes">diabetes</a> sampai sekarang kadar gula ibu rata-rata diantara kisaran 200 &#8211; 300 mg/dL Jarang sekali gula darah ibu berada di bawah 200 mg/dL. Kondisi lainnya ada beberapa teman ibu yang meninggal karena diabetes, terserang stroke, dan terserang penyakit berbahaya lainnya. Hal ini secara tidak langsung tentu membuat ibu takut kalau dia mengalami kejadian seperti itu</p>
<p><b>Depresi karena Memendam Masalah</b><br />
Hipotesa lainnya ibu pikirannya sedang penuh dengan masalah. Ironisnya ibu bukanlah tipe orang yang mudah cerita kalau beliau sedang susah. Segala sesuatu beliau sembunyikan. Saya bisa memahami hal ini, sebagai orang tua beliau tentu tidak ingin anaknya ikut sedih, biar beliau yang menanggungnya. Sayangnya berbagai masalah yang menumpuk dan tak terceritakan ini akhirnya meledak sehingga ibu depresi.</p>
<p><b>Pengobatan Ibu</b><br />
Masalah pengobatan, saya serahkan sepenuhnya kepada pihak Rumah Sakit. Para dokter dan perawat yang bertugas tentu telah banyak menangani kasus seperti ini dan mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. </p>
<p>Sementara itu setelah pulang nanti saya berharap dapat berkumpul dengan ibu sehingga lebih mudah mengawasinya. Dengan berkumpul kembali dengan anak dan cucunya tentu saja akan membuat ibu merasa bahagia sehingga harapannya depresi itu tidak terjadi lagi.</p>
<p>Hal terpenting lainnya ialah mengajari ibu agar mau terbuka dan jangan <i>perkewuh</i> mengganggu anaknya. Hal ini memang sulit tapi secara perlahan-lahan saya percaya pasti bisa.</p>
<p><em>Kiranya Allah Memberkati Kami</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/mengapa-ibu-depresi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beriman adalah Berserah tanpa Protes</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/beriman-adalah-berserah-tanpa-protes/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/beriman-adalah-berserah-tanpa-protes/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 16:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=697</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ketika <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/" title="Ibu Terkena Gejala Stroke">Profesor Ibrahim</a> mengatakan kalau ibu ada kemungkinan terkena gejala stroke dan gangguan pada saraf otaknya, pikiran saya langsung kalut. Saya (menjadi kurang ajar) berdoa agar Tuhan mengambil ibu daripada menyiksa beliau dengan penyakit seperti ini. Saya protes kepada-Nya kenapa Tuhan memberikan ibu sakit seperti ini padahal sejak kecil ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/" title="Ibu Terkena Gejala Stroke">Profesor Ibrahim</a> mengatakan kalau ibu ada kemungkinan terkena gejala stroke dan gangguan pada saraf otaknya, pikiran saya langsung kalut. Saya (menjadi kurang ajar) berdoa agar Tuhan mengambil ibu daripada menyiksa beliau dengan penyakit seperti ini. Saya protes kepada-Nya kenapa Tuhan memberikan ibu sakit seperti ini padahal sejak kecil ibu sudah sering menderita. Saya membayangkan (masih kurang ajar) ibu akan damai bila berjumpa dengan Tuhan.<br />
<span id="more-697"></span><br />
Dalam kekalutan itu, saya dengan bantuan sang Pencipta sadar bahwa keiklasan saya dalam merawat ibu yang sedang sakit tidak boleh diikuti dengan protes. Dengan kata lain jika saya protes artinya saya belum iklas benar mengurusi ibu.</p>
<p>Selain itu saya mendapatkan pemahaman bahwa iman ialah berserah dan menjalani tanpa perlu berkomentar. Saya teringat ketika Abraham di suruh pergi dari tanah kelahirannya dan di suruh mengorbankan Iskak. Abraham tidaklah protes padahal seharusnya dia bisa melakukannya. Namun Abraham tetaplah taat kepada Tuhan. Demikian juga iman kepada Tuhan haruslah dilakukan dengan ketaatan penuh tanpa ada protes.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/faith.jpg" alt="Iman" title="Iman" border="0"></div>
<p>Saya berpikir bahwa ketika Tuhan mengijinkan ibu sakit maka Tuhan tidak akan melepaskan begitu saja. Tuhan akan terus memelihara dan melakukan penyembuhan untuk ibu. Sementara saya sebagai anak diberi tugas untuk merawat ibu. Tugas itulah yang harus saya jalani dengan iklas, dengan iman kalau rancangan-Nya pasti indah. Dan semua itu dilakukan tanpa protes. </p>
<p>Ketika saya masih protes sama artinya saya tidak percaya kuasa Tuhan. Lebih ngeri lagi, saya sudah ingin mengarahkan Tuhan sesuai dengan keinginan saya. Saya tidak lagi bisa berserah secara penuh kepada-Nya</p>
<p>Di sisi lain saya diingatkan untuk tidak terlalu memikirkan diri saya, saya sendiri, saya butuh kekuatan, dll. Saya diminta untuk berdoa bagi kesembuhan ibu. Hal ini wajar karena yang sakit memang ibu. Saya sadar selama ini saya lebih suka memikirkan bagaimana saya, Tuhan berkati saya dengan ini itu. Saya lupa dan jarang berdoa untuk kesembuhan dan kesehatan ibu. Padahal saya yakin ibu sangatlah membutuhkan hal ini.</p>
<p>Selama 9 hari menjaga ibu, ada begitu banyak hal yang saya pelajari terutama mengenai iman kepada Tuhan.</p>
<p>Saya bersyukur karena Tuhan masih berkenan menyadarkan saya terus menerus. Kiranya saya mampu memiliki kepasrahan dan iman tanpa protes apalagi menyetir Sang Pembuat Alam Semesta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/beriman-adalah-berserah-tanpa-protes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kesembilan: Ibu Menjalani CT Scan</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesembilan-ibu-menjalani-ct-scan/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesembilan-ibu-menjalani-ct-scan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 15:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[<p>Minggu, 29 Januari. Pagi hari, saya dan istri berusaha memandikan ibu yang masih dalam keadaan ngantuk. Setelah itu kami dudukkan beliau dan kami suapi makan yang hanya habis sedikit lalu minum obat. Selesai itu ibu tidur lagi. Tangan beliau beberapa kali bergerak lagi walau dalam posisi tidur. Namun hal itu tidak berlangsung lama sebab setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 29 Januari. Pagi hari, saya dan istri berusaha memandikan ibu yang masih dalam keadaan ngantuk. Setelah itu kami dudukkan beliau dan kami suapi makan yang hanya habis sedikit lalu minum obat. Selesai itu ibu tidur lagi. Tangan beliau beberapa kali bergerak lagi walau dalam posisi tidur. Namun hal itu tidak berlangsung lama sebab setelah itu ibu tenang kembali.<br />
<span id="more-693"></span><br />
Hari ini ibu dijadwalkan akan menjalani scan kepala atau CT Scan di Panti Waluyo atas <a href="http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/" title="Ibu Kembali Tidur Nyenyak" rel="nofollow" target="_blank" >anjuran Prof Ibrahim</a> untuk memastikan apakah ada masalah di otaknya atau tidak.</p>
<p>Berbeda dengan kemarin, perasaan saya hari ini cukup tenang. Saya merasa bahwa saya disuruh untuk mendoakan ibu dan jangan memikirkan diri saya sendiri terus. Hal ini sebuah teguran bagi saya sebab selama ini saya selalu mempermasalahkan apakah saya kuat, bagaimana saya sendiri, apa saya iklas dalam menghadapi masalah ini. Namun, saya lupa bahwa yang sakit ibu dan saya harus berdoa untuk kesembuhan beliau.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/ct-scan.jpg" alt="CT Scan" title="CT Scan" border="0"></div>
<p>Sekitar pukul 10.00 saya ditemani perawat berangkat menuju Panti Waluyo. Istri saya tinggal di kamar untuk menjaga barang-barang yang ada. Sampai di Panti Waluyo, setelah menunggu sebentar dan melakukan pendaftaran ibu akhirnya menjalani CT Scan. Selesai CT Scan dan melakukan pembayaran kami pun pulang kembali ke RSK Puri Waluyo.</p>
<p>Dalam perjalanan perawat yang mendampingi saya menjelaskan kalau di otak ibu mengalami penyumbatan yang bisa menyebabkan terjadinya stroke. Namun, hal ini sudah diperkirakan oleh Prof Ibrahim. Jadi beliau memberikan obat untuk menghilangkan penyumbatan tersebut. Namun penjelasan lebih lengkap akan diberikan oleh dokter yang bersangkutan. Oleh karena itu saya diminta bersabar menunggu hasilnya.</p>
<p>Hari ini ibu masih banyak tidurnya. Sesekali tangan beliau bergerak sendiri namun setelah itu beliau bisa tenang.</p>
<p>Sore harinya saat istri hendak pulang, mas Linggar, kakak ipar bersama dengan istrinya mbak Maria, dan Joska, anaknya datang menjenguk ibu. Saya dan mbak Maria justru asyik berbicara soal pembelian rumah. Bila ibu sudah sembuh saya berencana untuk menjual rumah yang sekarang untuk selanjutnya dipakai sebagai modal membeli rumah baru di Sukoharjo. Nanti saya sekeluarga bersama dengan ibu akan tinggal bersama satu rumah. Hal ini sebagai komitmen saya dan istri untuk memelihara orang tua.</p>
<p>Menjelang malam mereka termasuk istri saya pulang dan saya pun sendiri lagi <img src='http://hardono.melesat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ibu masih tertidur pulas. Ketika ibu terjaga saya tawari beliau untuk minum obat namun ibu menolak dan ingin makan terlebih dahulu. Saya suapi ibu dan hasilnya memang tidak terlalu banyak. Setelah itu saya minumkan obat ke ibu dan beliau pun akhirnya tidur lagi.</p>
<p>Saat pemeriksaan dokter, beliau menganjurkan ibu untuk puasa karena besuk darahnya mau diperiksa. Satu hal yang sampai sekarang saya belum mengerti ialah soal penyakit gula ibu. Karena gulanya yang saya anggap sudah tinggi maka saya menanyakan apakah ibu akan diberi obat gula? Namun dokter Panani berkata jangan dulu. Entah apa alasannya saya tidak tahu. Mungkin beliau mau menunggu hasil lab dulu sebab hasil lab terakhir dilakukan tanpa melalui puasa. Saya sendiri berharap agar kadar gula ibu bisa terkontrol dan tidak dibiarkan begitu saja.</p>
<p>Walaupun cuma sedikit namun saya tetap bersyukur karena hari ini ibu banyak beristirahat dan sudah nyambung bila diajak bicara walau baru sepatah dua patah kata. Saya maklum, rasa kantuk yang teramat sangat membuat ibu tidak dapat diajak banyak bicara.</p>
<p><em>Matur nuwun Sang Pangeran</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kesembilan-ibu-menjalani-ct-scan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kedelapan: Ibu Kembali Tidur Nyenyak</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 15:26:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[ibu depresi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sabtu, 28 Januari. Pukul 2.45 pagi hari saya bangun dan ternyata ibu belum dapat tidur. Posisi beliau justru sudah berubah tidak sesuai tempat tidur namun melintang di tempat tidur. Mungkin karena tali yang mengikat tangan saya buat panjang dan kaki tidak saya ikat yang menyebabkan beliau dapat seperti itu. Saya pun lapor ke perawat mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 28 Januari. Pukul 2.45 pagi hari saya bangun dan ternyata ibu belum dapat tidur. Posisi beliau justru sudah berubah tidak sesuai tempat tidur namun melintang di tempat tidur. Mungkin karena tali yang mengikat tangan saya buat panjang dan kaki tidak saya ikat yang menyebabkan beliau dapat seperti itu. Saya pun lapor ke perawat mengenai hal ini dan dia segera menyuntik ibu dengan obat penenang yang dosisnya ditambahi.<br />
<span id="more-689"></span><br />
Saya dekati ibu yang pikirannya sudah mulai kacau dan bicaranya sudah ngelantur. Saya betulin ikatan di tangan dan juga mulai mengikat kaki beliau. Setelah saya cium keningnya saya tinggal tidur lagi.</p>
<p>Entah kenapa 2 kali saya mengamati bila ibu disuntik obat penenang, ibu bukannya merasa lemas melainkan seperti memiliki tenaga baru. Demikian juga setelah disuntik dengan dosis yang ditambah, tenaga ibu jadi kuat lagi. Beliau berusaha melepaskan diri dari tali pengikat dan berulang kali minta tolong untuk melepas talinya. Beliau berkata kalau ada orang yang memegangi tangannya. Saya kasihan dengan ibu yang masih saja berhalusinasi. Saya yakin ini adalah penderitaan berat yang dialami oleh ibu. Segala ketakutan, kekuatiran yang tidak perlu harus beliau lalui.</p>
<p>Sekitar pukul 5.30 ketika air hangat untuk mandi sudah datang, saya segera bangun dan membiarkan ibu tetap terikat. Saya mandi, mencuci baju, lalu menjemurnya. Setelah itu saya dekati ibu untuk melepas tali di tangan dan kakinya. Saya sibini beliau lalu suapi sarapan. Sayangnya sarapan beliau sedikit sekali. Itu pun kebanyakan hanya dikulum, termasuk ketika minum air juga di kulum. Sepertinya fisik ibu sudah mulai lelah, sehingga perintah otak dan tubuh tidak lagi sinkron. Beruntung ibu masih mau minum obat. Anehnya sewaktu saya ajak duduk, ibu kelihatan tidak ngantuk padahal sewaktu sarapan seperti tidak respon. Dugaan sementara saya ibu tidak suka makan bubur <img src='http://hardono.melesat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Beberapa saat kemudian ibu hendak membaringkan diri. Sprei dan bantal sudah saya rapikan dan ibu saya tutun untuk berbaring di tempat tidur. Oh ya, karena pengaruh suntikan, sebenarnya ibu sudah tidak kuat duduk sendiri, jadi harus di topang atau bersandar di tembok.</p>
<p>Saat berbaring tangan ibu tidak lagi bergerak, tapi mata beliau terbuka lebar bahkan kadang bola matanya hampir terbalik. Mungkin ibu sudah ngantuk tapi pengaruh halusinasi mencoba membuatnya tetap bertahan.</p>
<p>Ibupun akhirnya tertidur sewaktu saya menerima telpon dari mbak Wulan. Tapi sebentar kemudian melek lagi seperti orang bingung. Hal itu tidak berlangsung lama sebab ibu akhirnya tidur dengan pulas</p>
<p>Siang harinya istri datang. Kangen sekali rasanya lama tidak bersua dengan dia. Namun, sebenarnya saya kasihan soalnya dia sedang tidak enak badan. Saya sendiri menyarankan agar dia istirahat dulu namun &#8211; karena cintanya kepada suami dan mertua &#8211; dia nekat datang. Terima kasih sayang.</p>
<p>Sebentar kemudian Profesor Ibrahim datang memeriksa. Saya laporkan semua kondisi terakhir yang dialami ibu. Perawat yang mendampinginya juga melaporkan hasil cek laboratorium terbaru. Di situ tertulis kalau kadar gula ibu sudah naik sekitar 350 mg/dL. Saya menanyakan apakah ibu perlu obat gula dan Prof Ibrahim pun menjawab tentu, biar gulanya turun. Selain itu beliau juga akan mengadakan CT Scan (scan kepala) terhadap ibu. Beliau menduga apa yang dialami ibu adalah gejala stroke. Sedangkan penyakitnya sekarang adalah gangguan jiwa organik yaitu gangguan jiwa karena ada masalah dengan saraf di otak.</p>
<p>Saya dan istri langsung lemas begitu Prof Ibrahim pergi. Saya tidak tahu mesti berpikir, berkata, dan berbuat apa. Saya protes kenapa Tuhan mengijinkan ibu sakit seperti ini. Padahal sejak kecil kehidupan ibu kurang bahagia. Saya kalut, benar-benar kalut.</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://hardono.melesat.com/wp-content/uploads/2012/01/kristian-endang.jpg" alt="Kristian dan Endang" title="Kristian dan Endang" border="0"></div>
<p>Dalam suasana kalut tersebut Kristian, sahabat saya dan Endang istrinya datang. Saya ceritakan semua yang dialami ibu termasuk perasaan saya kepada mereka tanpa saya tutup-tutupi.</p>
<p>Saya berdoa di samping ibu mengajukan protes kepada Tuhan walau saya tidak tahu apakah protes ini benar dari hati nurani saya atau karena saya ingin lari dari masalah. Dalam perenungan tersebut saya sadar bahwa iman adalah menerima kehendak-Nya tanpa protes tanpa membantah. Tuhan hanya ingin kita mengatakan ya dan melalui-Nya, selebihnya adalah urusan Sang Pencipta.</p>
<p>Istri, mbak Wulan, Kristian, dan Endang pada hari itu telah memberikan dukungan yang cukup kuat agar saya siap melalui jalan Tuhan. Terima kasih semuanya. Saya sangat menghargai dukungan dan doa kalian semua.</p>
<p>Malam harinya saya dan istri mencoba untuk tidur. Kami agak tenang karena ibu bisa tidur dengan nyenyak. Namun, saat kami tidur beberapa kali ibu sudah turun dari tempat tidur hendak pipis bahkan sampai infusnya lepas. Untunglah yang lepas ialah bagian atas, bukan bagian jarum di tangan. Ibu memang terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri dan hal itu masih terbawa ketika beliau sakit. Contoh lain walau tidak kuat berjalan, ibu tetap tidak mau dipapah sekalipun oleh anaknya sendiri.</p>
<p>Tapi hari ini saya mengucap syukur karena ibu boleh banyak istirahat dan saya mendapatkan pencerahan Ilahi.</p>
<p><em>Puji sokur konjuk Gusti</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2012/01/hari-kedelapan-ibu-kembali-tidur-nyenyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

