<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>/Hardono ada di sini &#187; banjir</title>
	<atom:link href="http://hardono.melesat.com/tag/banjir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardono.melesat.com</link>
	<description>sebuah catatan perjalanan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 10:00:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Bantuan yang Mulai Berdatangan</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2009/03/bantuan-yang-mulai-berdatangan/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2009/03/bantuan-yang-mulai-berdatangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 12:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[<p>Setelah dua hari berlalu dengan perasaan kecewa terhadap <a href="http://hardono.melesat.com/2009/02/dimanakah-bantuan-pemerintah/" target="_blank" title="Bantuan Pemerintah">bantuan pemerintah</a> maka bantuan pun mulai berdatangan. Mulai dari nasi bungkus, sembako, sampai dengan pengobatan gratis. Memang sih nilainya tidak terlalu besar bagi perorangan namun aku percaya bantuan ini sungguh berarti bagi mereka yang membutuhkan.<br /> <br /> Selain itu pemerintah sendiri juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dua hari berlalu dengan perasaan kecewa terhadap <a href="http://hardono.melesat.com/2009/02/dimanakah-bantuan-pemerintah/" target="_blank" title="Bantuan Pemerintah">bantuan pemerintah</a> maka bantuan pun mulai berdatangan. Mulai dari nasi bungkus, sembako, sampai dengan pengobatan gratis. Memang sih nilainya tidak terlalu besar bagi perorangan namun aku percaya bantuan ini sungguh berarti bagi mereka yang membutuhkan.<br />
<span id="more-193"></span><br />
Selain itu pemerintah sendiri juga berencana akan mengadakan pemutihan sertifikat tanah. Hal ini tentu sangat menolong mereka yang kehilangan sertifikat karena banjir kemarin. Tapi teknisnya gimana aku juga gak tau.</p>
<p>Semoga di lain waktu kalau ada bencana (tapi aku tidak mengharapkan lho) pemerintah bisa langsung tanggap dan tidak terpaku pada urusan birokrasi yang justru bikin repot.</p>
<p>Selain itu, peran pemerintah untuk menanggulangi agar banjir tidak kembali terjadi juga penting. Masyarakatpun juga tidak boleh ketinggalan untuk menjaga lingkungan.</p>
<p>Caranya cukup mudah kok, jangan membuang sampah sembarangan dan sering-sering kerja bakti membersihkan lingkungan terutama sungai dan saluran air.</p>
<p>Semoga di kemudian hari Solo bebas banjir!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2009/03/bantuan-yang-mulai-berdatangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir di Banyuanyar, Solo</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-di-banyuanyar-solo/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-di-banyuanyar-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 12:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kamis, 26 Februari 2009 sekitar pukul 1.00 dinihari aku membuka detik untuk membaca informasi penting sebagai penghantar tidur. Di situ ada berita mengenai banjir yang menenggelamkan ratusan rumah di Banyuanyar dan Kadipiro. Ada juga informasi mengenai dua orang tewas karena tersengat listrik di Kadipiro. Pikiranku langsung mengarah ke rumah ibu. Bagaimana kondisi di sana?<br /> [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 26 Februari 2009 sekitar pukul 1.00 dinihari aku membuka detik untuk membaca informasi penting sebagai penghantar tidur. Di situ ada berita mengenai banjir yang menenggelamkan ratusan rumah di Banyuanyar dan Kadipiro. Ada juga informasi mengenai dua orang tewas karena tersengat listrik di Kadipiro. Pikiranku langsung mengarah ke rumah ibu. Bagaimana kondisi di sana?<br />
<span id="more-189"></span><br />
Aku hampir saja menelpon ibu namun kuurungkan karena kupikir rumahnya tidak akan kena banjir. Hal ini berdasarkan pengalaman minggu-minggu sebelumnya dimana daerah didekatnya yang hanya berjarak sekitar 50 m terkena banjir sedangkan di rumah ibu tidak. Selain itu tidak ada feeling buruk dan hari sudah sudah malam (dini hari) menjadi alasan kuat mengapa aku tidak menelpon ibu. Kasihan nanti kalau ibu bangun padahal masih tidur nyenyak. Kuputuskan untuk menelpon besuk pagi saja.</p>
<p>Esoknya setelah mengajak Ime jalan-jalan aku segera menelpon ibu (5.30) Ternyata dugaanku melesat, rumah ibu kebanjiran setinggi sekitar 0.5 m dan ibu terpaksa ngungsi ke rumah tetangga. saat itu banjir sudah reda dan ibu bersama-sama dengan tetangga sedang membersihkan rumah. Karena kuatir tidak dapat masuk ke sana akibat lumpur yang menurut ibu masih ada dijalan akhirnya aku hubungi <a href="http://kristiannovianto.blogspot.com" target="_blank" title="Kristian Novianto">Novi</a> agar dia mau mengantarku dan aku titip motor di rumahnya. Dia menyanggupi dan akan langsung menuju ke rumah ibu setelah mengantar istrinya. Sedangkan aku sendiri baru bisa ke sana siang karena harus bergantian dengan istriku untuk mengurusi Aimee.</p>
<p>Sampai di daerah Banyuanyar, kusempatkan keliling dulu melihat situasi sebelum ke rumah. Di sepanjang jalan orang-orang sibuk membersihkan rumahnya. Beraneka jemuran diletakkan di sepanjang jalan dan lumpur juga masih terlihat di beberapa tempat. Tercatat tembok yang menjadi pagar kantor Departemen Agama dan Lapangan Banyuanyar ambrok diterjang banjir.</p>
<p>Sampai di rumah ibu aku melihat kondisinya sudah agak baikan. Lumpur sudah mulai dibersihkan hanya tertinggal peralatan yang ikut terendam air. Novi pun juga masih ada di sana untuk membantu ibu. Segera aku ikut membantu ibu dan Novi membereskan, memperbaiki, membersihkan, atau melakukan hal lain sehingga rumah kembali seperti semula.</p>
<p>Dari cerita ibu, tetangga, dan mas <a href="http://hidoepku.wordpress.com" target="_blank" title="Pongky Yudha Hananta">Pongky</a> yang rumahnya di daerah Nusukan  kepahami bahwa banjir tersebut merupakan banjir kiriman dari Boyolali yang seharian juga hujan. Selain itu sungai Begawan Solo yang telah meluap tidak segera diantisipaso oleh pemkot Solo dengan membuka pintu air. Mereka kuatir kalau pintu air dibuka Solo bagian selatan akan kembali terendam seperti peristiwa tahun lalu. Tetapi di luar perkiraan ternyata hal tersebut menyebabkan Solo bagian utara dalam hal ini Banyuanyar dan Kadipiro terkena banjir.</p>
<p>Khusus untuk tempatku, banjir bisa sampai karena dinding bangunan pabrik tahu yang terletak di pinggir sungai jebol. Hujan yang terjadi sejak pukul 12.00 siang membuat sungai meluap. Dinding yang sebelumnya pernah retak karena derasnya aliran sungai tidak mampu lagi menahan derasnya aliran sungai. Akibatnya airpun meluap sampai ke rumahku.</p>
<p>Menurut cerita ibu, banjir ini terjadi mulai pukul 21.00 dimana ketinggian air sudah mulai setinggi tumit. Ibu yang sudah tidur waktu itu dibangunkan oleh tetangga. Perlu waktu yang cukup lama untuk membangunkan ibu karena pendengaran ibu sendiri agak terganggu. Namun, untungnya tetangga tidak putus asa, mereka terus berupaya membangunkan ibu hingga akhirnya ibu bangun. Thanks for our good neighbor.</p>
<p>Setelah bangun dan tahu bahwa banjir akan datang, ibu segera membereskan buku, pakaian, dan beberapa peralatan pentingnya lalu menaruhnya di tempat yang tinggi. Semua dilakukan dengan cepat karena air mulai berangsur naik. Ketika air berangsur mulai naik sampai ke atas lutut ibu ikut mengungsi ke rumah pak Heri yang rumahnya tingkat. Derasnya aliran air waktu itu hampir saja menghanjurkan beliau. Untung saja beberapa remaja sigap untuk menolong ibu dan mengantarkannya sampai ke rumah pak Heri. Rumah ibu sebenarnya tingkat tapi beliau takut naik ke atas, takut kalau rumahnya runtuh. Untunglah hal itu tidak terjadi.</p>
<p>Pukul 24.00 lebih adalah puncak dari banjir. Barang-barang banyak yang hanyut, lincak (tempat duduk panjang dari kayu) milik ibu sampai terbawa sejauh 10 meter sebelum diamankan oleh tetangga. Sementara meja rias ibu juga terpenting ke lantai dan isinya berhamburan keluar.</p>
<p>Setelah itu air mulai surut dan pukul 3.00 pagi warga mulai bekerja membersihkan rumahnya dari lumpur yang tertinggal. Karena tidak sanggup membersihkan sendiri ibu meminta Agus tetanggaku untuk membersihkan lumpur di rumah yang ketinggiannya sekitar 20-30 cm.</p>
<p>Akibat banjir tersebut beberapa pakaian yang sempat diselamatkan terendam air, kasur pun juga demikian walau tidak terlalu parah. Sementara buku-buku kenangan dan lama milik ku juga ikut terendam. Tidak terkecuali beberapa surat berharga miliki ibu. Hal ini dapat terjadi karena ibu lupa menaruhnya di tempat yang tinggi. Tapi ya sudahlah gpp, bagiku yang penting ibu selamat. Sebuah benda lama atau kenangan tidaklah lebih berharga dibandingkan nyawa manusia.</p>
<p>Pukul 9.00 lebih Novi datang untuk membantu dan lama berselang sekitar pukul 12.00 aku tiba di rumah untuk membantu ibu.</p>
<p>Aku bersyukur kepada Tuhan karena Dia masih berkenan mempertemukan kami di dunia ini. Semuanya ini tidak mungkin dapat dilalui ibu dan aku tanpa campur tangan Tuhan. Terima kasih kepada mereka yang telah Tuhan pakai sebagai alat untuk menolong ibu.</p>
<p>Postingan ini aku buat sebagai ungkapan terima kasih bagi mereka yang telah membantu ibu sewaktu banjir kemarin. Terima kasih untuk Novi yang telah membantu ibu sejak pagi, Mas Fery yang begitu sabar terus mengetok pintu rumah memberitahu banjir sampai ibu bangun, keluarga pak Heri yang rumahnya dijadikan sebagai rumah pengungsian, Agus yang menolong membersihkan lumpur di rumah, Pambudi dan teman-teman yang menuntun ibu sampai ke rumah pak Heri, keluarga bu Paiman, keluarga pak Pardi, keluarga pak Widodo, keluarga pak Sukir, keluarga pak Man, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa kusebutkan namanya satu persatu. Thanks to you.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-di-banyuanyar-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir Mulai Menyapa</title>
		<link>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-mulai-menyapa/</link>
		<comments>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-mulai-menyapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 11:47:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardono.melesat.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hujan yang mengguyur Sukoharjo sejak sore hari (23 Februari 2009) ternyata membuat wilayah di sekitar rumahku mulai dihampiri oleh banjir. Memang sih gak nyampe rumahku. Kira-kira sekitar 50 meter dari rumahku jalanan mulai digenangi dengan air yang sudah setinggi tumit. Untungnya rumah-rumah di sini biasanya lebih tinggi dari jalan jadi belum kena banjir.<br /> <br [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan yang mengguyur Sukoharjo sejak sore hari (23 Februari 2009) ternyata membuat wilayah di sekitar rumahku mulai dihampiri oleh banjir. Memang sih gak nyampe rumahku. Kira-kira sekitar 50 meter dari rumahku jalanan mulai digenangi dengan air yang sudah setinggi tumit. Untungnya rumah-rumah di sini biasanya lebih tinggi dari jalan jadi belum kena banjir.<br />
<span id="more-187"></span><br />
Tapi di daerah lain banjir sudah mulai menyentuh lutut dan menghampiri beberapa rumah. Aku yang mencoba melihat banjir itu menyaksikan bagaimana aliran air di jalan perlahan-lahan namun pasti terus naik menggenai jalan raya. Orang-orang yang wilayahnya terkena banjir pun beramai-ramai mengungsi ke daerah lain yang tidak tergenang banjir.</p>
<p>Kejadian ini menginggatkan aku terhadap banjir di tahun 2008 kemarin di wilayah ini. Waktu itu hujan memang turun deras tetapi tidak ada tanda-tanda kalau akan terjadi banjir. Tiba-tiba saja sekitar pukul 2.00 dini hari air dari sungai meluap yang mengakibarkan beberapa rumah langsung terendam air.</p>
<p>Pukul 3.00 dini hari tetanggaku berteriak kalau rumah Bude Tri yang letaknya dekat sungai kena banjir. Aku langsung bangun dan menuju ke sana. Ternyata pagar rumah yang tingginya hampir satu meter sudah tidak kelihatan lagi. Disembunyikan oleh banjir.</p>
<p>Padahal rumah bude Tri sendiri cuma berjarak sekitar 25 meter dari rumahku. Hanya saja ada pemisah berupa sungai kecil (yang tidak ikut meluap) dan jembatan yang letaknya agak tinggi. Selain itu letak rumah bude Tri sendiri juga lebih rendah dari letak rumah di sisi sungai yang satunya. Kalau saja banjirnya bisa menutupi jembatan mungkin rumahku juga kena banjir.</p>
<p>Agaknya banjir sudah mulai mengakrabi warga di lingkungan ini. Namun, hal ini bukannya tidak diantisasi oleh warga. Kerja bakti membersihkan sungai dan selokan terus dilakukan. Pinggiran sungai besar yang pernah meluap itu juga dibuat semacam tanggul darurat. Biar kalau sungai meluap airnya tidak langsung menggenangi jalan.</p>
<p>Untungnya di malam hari hujan telah berhenti dan banjirpun tidak bertambah parah. Memang sudah ada rumah yang kebanjiran tetapi kejadian ini tidak separah tahun lalu.</p>
<p>Semoga saja warga terus giat menjaga lingkungan sehingga banjir tidak terus menyapa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardono.melesat.com/2009/02/banjir-mulai-menyapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

