Inilah buku keenam dari serial Narnia, karya C.S. Lewis yang mengisahkan awal penciptaan Narnia oleh Aslan. Walaupun diterbitkan sebagai buku keenam (1955) dari tujuh buku Narnia, namun secara kronologi inilah buku pertama. Sebelum buku The Lion, The Witch And The Wardrobe yang ceritanya sudah dianggkat ke layar lebar.

Pada buku inilah, kamu dapat mengetahui bagaimana tiang lampu masuk ke Narnia, darimana asalnya Lemari sebagai tempat masuk Narnia, siapa Profesor Kirke, dan dari mana asalnya Jadis.

Sekelumit cerita

Tanpa bermaksud mengurangi selera keingintahuan mengenai isi buku ini, namun inilah penggalannya. Untuk versi lengkapnya aku sarankan untuk membeli aja bukunya.

Buku ini diawali dengan pertemuan dua orang anak yaitu Digory Kirke dengan tetangganya, Polly Plummer. Dari percakapan tersebut terkuak bahwa ibu Digory sakit parah, sedangkan ayahnya pergi berperang ke India. Saat ini Digory tinggal bersama paman Andrew dan bibi Letty di London.

Paman Andrew termasuk orang yang aneh yang mengira dirinya adalah penyihir. Ia mengadakan percobaan yang katanya dapat mengirimkan seseorang ke dunia lain, selain dunia kita. Dengan sangat licik ia berhasil mengelabugi Polly untuk menggenakan sebuah cincin. Akibatnya Polly lenyap dari pandangan mata. Selanjutnya ia memaksa Digory untuk mengenakan cincin tersebut atau Polly tidak akan kembali lagi.

Digory pun menggunakan cincin tersebut dan sampailah ia ke sebuah hutan yang penuh dengan kolam. Ia bertemu dengan Polly, namun awalnya mereka tidak saling kenal. Setelah beberapa saat mengingat-ingat akhirnya mereka ingat siapa mereka dan kenapa mereka bisa sampai di sini. Hutan tersebut ternyata semacam tempat persinggahan antar dunia, sedangkan kolamnya adalah lorong yang menuju ke dunia lain. Sedangkan cincinnya adalah alat untuk menarik mereka kembali ke hutan dan kembali ke bumi.

Dari hutan tersebut mereka memulai petualangan. Dunia pertama yang mereka kunungi adalah Charn, sebuah kota mati. Di sebuah bangsal istana mereka menemukan sebuah lonceng dan palu di atas pilar. Ada tulisan di dekat lonceng tersebut, bila mereka memukulnya akan muncul suatu bahaya, bila tidak, mereka akan jadi gila. Polly memilih untuk kembali dan bersiap-siap menggunakan cincin dan kembali ke hutan. Tapi Digory terlanjur memukul bel tersebut yang kemudian membangunkan Jadis, ratu Charn, yang membuat Charn menjadi seperti sekarang.

Saat melarikan diri kembali ke hutan, jadis terserat ikut, namun disitu ia berubah menjadi wanita tua renta. Ia pun mengikuti mereka sampai ke kamar Paman Andrew, dan memperoleh kembali kekuatan dan kecantikannya, walau sihirnya telah hilang. Karena ingin menguasai bumi, Jadis lalu membuat keonaran di London. Digory dan Polly pun berusaha keras mengembalikan Jadis ke dunianya.

Saat kembali ke hutan ternyata mereka membawa serta Frank, kusir kereta; Strawberry, kudanya; dan Paman Andrew. Selanjutnya mereka masuk ke dunia asing yang belum berbentuk. Kemudian terdengarlah alunan merdu Sang Singa, dan seiring nyanyian tersebut muncullah rumput, pepohonan, dan binatang. Aslan sedang menciptakan Narnia!

Sedangkan Jadis, yang takut terhadap Aslan, melarikan diri ke wilayah Utara.

Aslan kemudian memampukan beberapa hewan untuk berbicara, termasuk Strawberry, dan menjelaskan bahwa kedatangan manusia membawa kejahatan ke dunia yang umurnya belum genap setengah hari tersebut. Digory merasa bersalah karena telah membawa Jadis ke Narnia, tapi ia juga berharap Aslan dapat memberinya obat untuk menyembuhkan ibunya. Aslanpun memberikan tugas kepada Digory untuk memperbaiki kesalahannya. Sedangkan Frank beserta istrinya yang didatangkan oleh Aslan di beri kepercayaan untuk menjadi raja pertama Narnia.

Dialog Cerdas

Ada begitu banyak pesan moral dan dialog menarik yang dapat dinikmati dari novel ini. Salah satunya ialah dialog antara Frank dengan Aslan, saat ia ditawari untuk menjadi raja Narnia. Keraguan Frank dalam sekejab diubah menjadi keyakinan melalui dialog yang singkat dan membangun. Berikut penggalan dialog tersebut:

Dengan kesulitan, si kusir menelan ludah dua-tiga kali dan berdeham.

“Maaf, Sir,” katanya, “bukannya saya tidak berterima kasih sekali kepada Anda (istri saya pun akan melakukan hal yang sama), tapi saya bukanlah orang yang cocok untuk pekerjaan seperti itu. Begini, saya tidak pernah dapat banyak pendidikan.”

“Yah,” kata Aslan, “bisakah kau menggunakan cangkul, bajak, dan memanen makanan dari bumi?”

“Ya, Sir, saya bisa melakukan pekerjaan semacam itu, karena dibesarkan untuk melakukannya.”

“Bisakah kau memerintah makhluk-makhluk ini dengan lembut dan adil, mengingat bahwa mereka bukanlah budak seperti hewan-hewan bodoh di dunia tempat kau dilahirkan, tapi hewan-hewan yang bisa berbicara dan rakyat bebas?”

“Saya mengerti itu, Sir,” jawab si kusir. “Saya akan berusaha memperlakukan mereka tanpa membeda-bedakan.”

“Dan apakah kau akan membesarkan anak-anak juga cucu-cucumu untuk melakukan hal yang sama?”

“Saya pasti akan berusaha melakukan itu, Sir. Saya akan berusaha sebaik-baiknya: bukankah begitu, Nellie?”

“Dan kau tidak akan menjadikan salah satu anakmu sebagai favorit dibanding anak-anakmu yang lain atau dibanding makhluk-makhluk lain, atau membiarkan yang satu membawahi yang lain atau menggunakannya dengan tidak benar?”

“Saya tidak akan pernah bisa membiarkan hal seperti itu terjadi, Sir, dan itu kebenaran. Saya akan menghukum mereka bila aku mengetahui mereka melakukan itu,” kata si kusir. (Sepanjang percakapan ini suaranya menjadi kian lambat dan kaya. Lebih seperti suara orang desa yang pasti dimilikinya saat dia masih kanak-kanak dan tidak seperti aksen kelas rendahan yang tajam dan cepat.)

“Dan jika para musuh datang menantang tanah ini (karena mereka akan datang) lalu ada perang, apakah kau akan jadi yang pertama maju bertempur dan terakhir mengundurkan diri?”

“Yah, Sir,” kata si kusir sangat lambat, “seseorang tidak akan tahu pasti apa yang terjadi sebelum dia mencobanya. Yang bisa saya katakan adalah saya mungkin akan jadi pria lembek di saat seperti itu. Saya tidak pernah berkelahi kecuali dengan tinju saya. Tapi saya akan berusaha-setidaknya, saya harap saya akan berusaha-memenuhi bagian saya.”

“Kalau begitu,” kata Aslan, “kau akan melakukan segala tindakan yang harus dilakukan seorang raja…”

Hal-hal menarik lainnya, sekali lagi aku sarankan beli aja bukunya.

 

4 Responses to The Magician’s Nephew, Awal dari Narnia

  1. InFik says:

    Genius !!

  2. Devi says:

    trims..y ..info nya bagus banget :)

  3. fariz says:

    bagus bagus sekali

  4. nice post and good luck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>